Update: Senin, 6 Juli 2026

JAWA

PT. Jaya Agra Wattie Tbk.

Rp 113
-0.88%
Volume
12.790 lot
MA 5
109
MA 20
116
RSI
39.02
High
116
Low
110
Nilai
55/100
Rekomendasi
HOLD *

* Rekomendasi hanya berdasarkan sistem teknikal analisis (MA5, MA20, RSI, Volume dan Foreign Flow), gabungkan dengan indikator lain seperti: analisa transaksi, broker summary, narasi atau corporate action untuk hasil trading lebih optimal.

Harga, MA, RSI
Indikator Teknis
Trend
Downtrend
Volatility (Avg)
3.46%
Support (10d)
105
Resistance (10d)
160
Volume Trend (10d)
+952.0%
Score
55
Win Rate (30d)
43.33 %
P/L (30d)
-22.07 %
Sinyal Trading
Bearish MA Cross: Death Cross (MA5 < MA20)
Bullish Price Position: Price above MA5 (Short-term bullish)
Neutral RSI: Neutral (39.0)
Bearish Volume: Low volume - Weak momentum
Bullish Foreign Flow: Foreign net buying (Last 5 days avg: 22 lot)

Berdasarkan hasil perhitungan indikator teknikal, saham JAWA saat ini menunjukkan kecenderungan downtrend pada periode perdagangan terakhir. Nilai RSI saat ini adalah 39.0, yang menandakan bahwa momentum pergerakan harga masih tergolong stabil di area netral.

Tingkat volatilitas rata-rata dalam beberapa hari terakhir tercatat sebesar 3.46%. Area support terdekat berada di sekitar Rp105, sementara area resistance terdekat berada di kisaran Rp160.

Skor teknikal keseluruhan saat ini adalah 55 poin, yang menggambarkan kecenderungan pasar yang relatif netral dan belum menunjukkan arah pasti.

Berdasarkan analisa tersebut, sistem memberikan rekomendasi untuk HOLD. Sinyal campuran muncul. Pasar menunjukkan ketidakpastian tanpa arah yang jelas saat ini.

Strategi yang disarankan: Tunggu breakout diatas 160 (resistance). Target harga berada di kisaran Target setelah terjadi breakout: 176, dengan batas stop loss di sekitar Dibawah 105 (support). Dibutuhkan kesabaran. Pantau lonjakan volume dan konfirmasi arah tren.

TradingView Chart
Memuat grafik...
Volume & Frekuensi
Foreign Net Buy (lot)
Pasar Nego & Pasar Tunai (Non Regular)
Artikel

Ketika Suku Bunga Naik, Siapa yang Paling Terluka? Analisis Sensitivitas Beban Keuangan dalam Saham

Tahun 2022 hingga 2024 menjadi periode yang tidak terlupakan bagi investor saham global dan domestik. Bank sentral di berbagai negara menaikkan suku bunga acuan secara dramatis untuk memerangi inflasi. Di Indonesia, BI Rate naik dari level historis rendah 3,5% ke kisaran 6%. Akibatnya? Banyak perusahaan yang sebelumnya nyaman dengan utang berbunga rendah, tiba-tiba menghadapi lonjakan beban bunga yang menggerus laba bersih. Fenomena ini mengajarkan satu pelajaran penting: tidak semua saham bereaksi sama terhadap perubahan suku bunga. Perusahaan dengan utang besar dan sensitivitas tinggi akan babak belur, sementara perusahaan tanpa utang hampir tidak terdampak. Artikel ini akan membahas bagaimana menganalisis sensitivitas beban keuangan perusahaan terhadap perubahan suku bunga, langkah-langkah perhitungan, indikator kunci yang harus dipantau, serta strategi investasi di berbagai siklus suku bunga. Mengapa Suku Bunga...

Artikel menarik lainnya:

  1. Zig Zag – Menghilangkan Noise, Melihat Struktur dengan Lebih Jelas
  2. Harami Bullish: Sinyal Kehamilan yang Menandakan Kelahiran Tren Baru
  3. Memahami Pola Doji: Sinyal Netral yang Bisa Menjadi Pembalik Tren
  4. Dividen dalam Bentuk Lembar Saham: Memahami Rasio Distribusi Saham Bonus
  5. Coppock Curve: Sinyal Beli Legendaris untuk Menangkap Bottom Pasar
  6. Menilai Masa Depan Tanpa Angka Kini: Panduan Valuasi Perusahaan yang Belum Profit
  7. Harami Bearish: Saat Pasar "Mengandung" Potensi Pembalikan Turun
  8. Status Quo Bias: Bahaya Malas Menyeimbangkan Kembali Portofolio
  9. Elder Ray Index: Mengukur Kekuatan Bull dan Bear di Pasar
  10. Pengertian Pendapatan vs Laba: Jangan Tertukar!

TradingView Chart - JAWA