Update: Kamis, 20 Agustus 2026

DNET

PT. Indoritel Makmur Internasional Tbk.

Rp 9.900
0.00%
Volume
59 lot
MA 5
9.850
MA 20
9.793
RSI
50.88
High
9.900
Low
9.750
Nilai
70/100
Rekomendasi
BUY *

* Rekomendasi hanya berdasarkan sistem teknikal analisis (MA5, MA20, RSI, Volume dan Foreign Flow), gabungkan dengan indikator lain seperti: analisa transaksi, broker summary, narasi atau corporate action untuk hasil trading lebih optimal.

Harga, MA, RSI
Indikator Teknis
Trend
Strong Uptrend
Volatility (Avg)
1.11%
Support (10d)
9.500
Resistance (10d)
10.000
Volume Trend (10d)
+16.6%
Score
70
Win Rate (30d)
46.67 %
P/L (30d)
0.00 %
Sinyal Trading
Bullish MA Cross: Golden Cross (MA5 > MA20)
Bullish Price Position: Price above MA5 (Short-term bullish)
Bullish RSI: Strong momentum (50.9)
Bearish Volume: Low volume - Weak momentum
Bearish Foreign Flow: Foreign net selling (Last 5 days avg: -3 lot)

Berdasarkan hasil perhitungan indikator teknikal, saham DNET saat ini menunjukkan kecenderungan strong uptrend pada periode perdagangan terakhir. Nilai RSI saat ini adalah 50.9, yang menandakan bahwa momentum pergerakan harga masih tergolong stabil di area netral.

Tingkat volatilitas rata-rata dalam beberapa hari terakhir tercatat sebesar 1.11%. Area support terdekat berada di sekitar Rp9.500, sementara area resistance terdekat berada di kisaran Rp10.000.

Skor teknikal keseluruhan saat ini adalah 70 poin, yang menggambarkan kecenderungan pasar yang bullish kuat dan mendukung peluang kenaikan harga.

Berdasarkan analisa tersebut, sistem memberikan rekomendasi untuk BUY. Beberapa indikator mendukung arah naik, namun konfirmasi tambahan masih dibutuhkan.

Strategi yang disarankan: Tunggu konfirmasi di 10.098 disertai lonjakan volume. Target harga berada di kisaran 10.890 - 11.385 (10-15%), dengan batas stop loss di sekitar 9.207 (7% below entry). Disarankan entry secara konservatif; waspadai potensi breakdown di bawah support.

TradingView Chart
Memuat grafik...
Volume & Frekuensi
Foreign Net Buy (lot)
Pasar Nego & Pasar Tunai (Non Regular)
Artikel

Menilai Masa Depan Tanpa Angka Kini: Panduan Valuasi Perusahaan yang Belum Profit

Sebut saja Gojek, Tokopedia, Traveloka, atau perusahaan rintisan teknologi lainnya sebelum merger dan akuisisi. Selama bertahun-tahun, mereka melaporkan kerugian besar—miliaran dolar menguap setiap kuartal. Namun investor ventura, private equity, dan bahkan investor publik di bursa saham (melalui listing di luar negeri) tetap berlomba-lomba menanamkan modal dengan valuasi puluhan miliar dolar. Mengapa? Karena mereka tidak menilai laba saat ini, melainkan potensi laba masa depan. Di bursa saham Indonesia, kita juga mulai melihat fenomena serupa. Emiten-emiten teknologi, digital, atau rintisan yang melantai di IDX seringkali masih dalam fase pertumbuhan tinggi tetapi belum profit. Saham mereka diperdagangkan, dan investor harus menentukan apakah harga tersebut mahal atau murah—tanpa EPS (earning per share) yang positif. Artikel ini akan membahas secara komprehensif metode-metode valuasi untuk perusahaan yang belum profit, mulai dari...

Artikel menarik lainnya:

  1. The False Bar: Breakout Palsu di Timeframe Kecil
  2. Kepercayaan Buta pada Guru Saham: Bahaya Mengikuti Tanpa Filter
  3. Book Building dan Masa Penawaran IPO: Cara Menentukan Harga Saham Perdana
  4. Falling Three Methods: Konsolidasi di Tengah Penurunan yang Mematikan
  5. Shooting Star (Bearish): Bintang Jatuh yang Menandakan Akhir Tren Naik
  6. The Outside Bar: Mirip Engulfing tapi dalam Konteks Swing Trading
  7. Rasio PBV Antar Sektor: Mengapa Bank dan Teknologi Tidak Bisa Dibandingkan secara Langsung
  8. Time Series Forecast: Memprediksi Harga Masa Depan dari Pola Masa Lalu
  9. Jebakan Saham Gorengan Psikologis: Ketika Keserakahan Memasuki Perangkap yang Dirancang Rapi
  10. Rasio Distress Price to Book Value: Mendeteksi Saham yang Terluka Parah atau Peluang Emas?

TradingView Chart - DNET