Update: Jumat, 22 Mei 2026

INDS

PT. Indospring Tbk.

Rp 308
+4.05%
Volume
28.825 lot
MA 5
325
MA 20
385
RSI
40.67
High
310
Low
282

Harga, MA, RSI
Indikator Teknis
Trend
Strong Downtrend
Volatility (Avg)
4.86%
Support (10d)
282
Resistance (10d)
422
Volume Trend (10d)
-84.0%
Score
35
Win Rate (30d)
33.33 %
P/L (30d)
-23.38 %
Sinyal Trading
Bearish MA Cross: Death Cross (MA5 < MA20)
Bearish Price Position: Price below MA5 (Short-term bearish)
Neutral RSI: Neutral (40.7)
Bearish Volume: Low volume - Weak momentum
Bullish Foreign Flow: Foreign net buying (Last 5 days avg: 6.866 lot)

Berdasarkan hasil perhitungan indikator teknikal, saham INDS saat ini menunjukkan kecenderungan strong downtrend pada periode perdagangan terakhir. Nilai RSI saat ini adalah 40.7, yang menandakan bahwa momentum pergerakan harga masih tergolong stabil di area netral.

Tingkat volatilitas rata-rata dalam beberapa hari terakhir tercatat sebesar 4.86%. Area support terdekat berada di sekitar Rp282, sementara area resistance terdekat berada di kisaran Rp422.

Skor teknikal keseluruhan saat ini adalah 35 poin, yang menggambarkan kecenderungan pasar yang cenderung bearish dan berisiko mengalami tekanan jual.

Berdasarkan analisa tersebut, sistem memberikan rekomendasi untuk SELL. Sinyal bearish kuat terdeteksi; beberapa indikator menunjukkan potensi penurunan lebih lanjut.

Strategi yang disarankan: Keluar pada harga saat ini atau saat terjadi rebound menuju MA5. Target harga berada di kisaran Pertimbangkan masuk kembali di 268 (near support), dengan batas stop loss di sekitar Minimalkan kerugian, keluar saat harga menguat. Hindari membeli saat harga masih turun. Tunggu konfirmasi pembalikan tren.

TradingView Chart
Memuat grafik...
Volume & Frekuensi
Foreign Net Buy (lot)
Pasar Nego & Pasar Tunai (Non Regular)
Artikel

Ribuan Skenario Masa Depan: Analisis Monte Carlo untuk Proyeksi Laba dalam Investasi Saham

Seorang investor mencoba memproyeksikan laba perusahaan tambang batu bara. Harga batu bara sulit diprediksi, nilai tukar rupiah berfluktuasi, volume produksi tergantung cuaca, dan biaya operasional bisa naik kapan saja. Ia membuat satu proyeksi "base case" dengan asumsi harga batu bara Rp1,5 juta per ton dan kurs Rp15.000 per dolar. Hasilnya: laba naik 25% tahun depan. Ia pun membeli saham. Namun enam bulan kemudian, harga batu bara turun menjadi Rp1,2 juta dan kurs melemah ke Rp16.000. Laba perusahaan anjlok 40%. Harga saham ikut terperosok. Investor itu kebingungan: "Bukankah proyeksi saya menunjukkan kenaikan laba?" Masalahnya: ia hanya membuat satu skenario — satu titik di ruang kemungkinan yang tak terbatas. Dunia nyata tidak berjalan dalam satu garis lurus. Analisis Monte Carlo adalah solusi untuk masalah ini. Dengan menjalankan...

Artikel menarik lainnya:

  1. Perbedaan Day Trader vs Investor: Dua Dunia, Dua Psikologi yang Berbeda
  2. Menggunakan Kelly Criterion untuk Alokasi Modal di Pasar Saham
  3. The Spring Pattern: Harga Turun Sebentar Lalu Naik Tajam sebagai Konfirmasi Support
  4. Price to Cash Flow (P/CF): Pelengkap yang Jujur dari PER
  5. Counterattack Line, Pertarungan Dua Kekuatan yang Berakhir Seimbang
  6. Strip Ratio: Metrik Wajib Sebelum Beli Saham Batubara
  7. Bahaya Averaging Down Saham Fundamental Rusak: Ketika Memperbesar Posisi Menghancurkan Portofolio
  8. Menilai Masa Depan Tanpa Angka Kini: Panduan Valuasi Perusahaan yang Belum Profit
  9. Rasio PBV Antar Sektor: Mengapa Bank dan Teknologi Tidak Bisa Dibandingkan secara Langsung
  10. Core-Satellite Portfolio: Strategi Cerdas Memadukan Stabilitas dan Pertumbuhan

TradingView Chart - INDS