Update: Jumat, 22 Mei 2026

MEGA

PT. Bank Mega Tbk.

Rp 1.865
+0.54%
Volume
428 lot
MA 5
1.861
MA 20
2.173
RSI
6.71
High
1.900
Low
1.800

Harga, MA, RSI
Indikator Teknis
Trend
Downtrend
Volatility (Avg)
3.65%
Support (10d)
1.705
Resistance (10d)
2.100
Volume Trend (10d)
-37.8%
Score
75
Win Rate (30d)
20 %
P/L (30d)
-66.24 %
Sinyal Trading
Bearish MA Cross: Death Cross (MA5 < MA20)
Bullish Price Position: Price above MA5 (Short-term bullish)
Bullish RSI: Oversold (6.7) - Potential reversal
Bearish Volume: Low volume - Weak momentum
Bullish Foreign Flow: Foreign net buying (Last 5 days avg: 470 lot)

Berdasarkan hasil perhitungan indikator teknikal, saham MEGA saat ini menunjukkan kecenderungan downtrend pada periode perdagangan terakhir. Nilai RSI saat ini adalah 6.7, yang menandakan bahwa saham berada pada kondisi jenuh jual (oversold) sehingga berpotensi mengalami pembalikan arah ke atas.

Tingkat volatilitas rata-rata dalam beberapa hari terakhir tercatat sebesar 3.65%. Area support terdekat berada di sekitar Rp1.705, sementara area resistance terdekat berada di kisaran Rp2.100.

Skor teknikal keseluruhan saat ini adalah 75 poin, yang menggambarkan kecenderungan pasar yang bullish kuat dan mendukung peluang kenaikan harga.

Berdasarkan analisa tersebut, sistem memberikan rekomendasi untuk BUY. Sinyal bullish kuat terdeteksi; beberapa indikator menunjukkan momentum positif dengan rasio risk/reward yang menarik.

Strategi yang disarankan: Harga saat ini: 1.865 atau saat terjadi pullback ke MA5. Target harga berada di kisaran 2.145 - 2.331 (15-25%), dengan batas stop loss di sekitar 1.772 (5% below entry). Gunakan manajemen risiko (money management) dan pantau arus dana asing.

TradingView Chart
Memuat grafik...
Volume & Frekuensi
Foreign Net Buy (lot)
Pasar Nego & Pasar Tunai (Non Regular)
Artikel

Beyond the Balance Sheet: Menilai Ekuitas di Balik Aset Tak Berwujud

Seorang investor menemukan dua perusahaan dengan kapitalisasi pasar yang sama persis: Rp10 triliun. Namun ketika ia mengamati neraca, ia terkejut. Perusahaan A memiliki aset bersih berwujud (net tangible assets) sebesar Rp8 triliun. Perusahaan B hanya memiliki Rp2 triliun. Artinya, premi yang dibayar pasar di atas aset berwujud untuk Perusahaan A adalah Rp2 triliun, sementara untuk Perusahaan B mencapai Rp8 triliun. Apakah Perusahaan B terlalu mahal? Atau justru Perusahaan A terlalu murah? Jawabannya bergantung pada apa yang membentuk selisih tersebut—biasanya aset tak berwujud (intangible assets) seperti merek, teknologi, basis pelanggan, atau keunggulan kompetitif lainnya. Artikel ini akan membahas secara mendalam tentang rasio Equity Value to Net Tangible Assets, bagaimana menghitungnya, menginterpretasikannya, serta mengapa rasio ini menjadi salah satu ukuran terbaik untuk menilai "premium" yang bersedia dibayar...

Artikel menarik lainnya:

  1. Recency Bias: Bahaya Terpaku pada Kejadian Terakhir di Pasar Saham
  2. Downside Tasuki Gap: Pola Lanjutan Bearish yang Mematikan
  3. Production Cost per Ton: Metrik Paling Jujur dari Saham Tambang
  4. Rasio Kas terhadap Utang Lancar: Ukuran Paling Keras Kemampuan Bayar Utang dalam 24 Jam
  5. Risk Parity: Filosofi Portofolio ala Ray Dalio yang Mengutamakan Risiko, Bukan Modal
  6. Fixed Asset Turnover: Seberapa Produktif Pabrik Anda?
  7. Pivot Point – Lima Metode Menghitung Level Support dan Resistance Harian
  8. VSA (Volume Spread Analysis) – Membaca Niat Pelaku Pasar Melalui Volume dan Spread
  9. Ending Volume: Volume Mengecil di Akhir Tren sebagai Tanda Kelelahan
  10. Dunning-Kruger Effect: Ketika Investor Pemula Merasa Paling Pintar di Pasar Saham

TradingView Chart - MEGA