Update: Jumat, 22 Mei 2026

MDIA

PT. Intermedia Capital Tbk.

Rp 110
-4.35%
Volume
2.084.820 lot
MA 5
121
MA 20
128
RSI
39.52
High
120
Low
103

Harga, MA, RSI
Indikator Teknis
Trend
Strong Downtrend
Volatility (Avg)
8.01%
Support (10d)
103
Resistance (10d)
165
Volume Trend (10d)
-24.6%
Score
35
Win Rate (30d)
43.33 %
P/L (30d)
120.00 %
Sinyal Trading
Bearish MA Cross: Death Cross (MA5 < MA20)
Bearish Price Position: Price below MA5 (Short-term bearish)
Neutral RSI: Neutral (39.5)
Bearish Volume: Low volume - Weak momentum
Bullish Foreign Flow: Foreign net buying (Last 5 days avg: 198.008 lot)

Berdasarkan hasil perhitungan indikator teknikal, saham MDIA saat ini menunjukkan kecenderungan strong downtrend pada periode perdagangan terakhir. Nilai RSI saat ini adalah 39.5, yang menandakan bahwa momentum pergerakan harga masih tergolong stabil di area netral.

Tingkat volatilitas rata-rata dalam beberapa hari terakhir tercatat sebesar 8.01%. Area support terdekat berada di sekitar Rp103, sementara area resistance terdekat berada di kisaran Rp165.

Skor teknikal keseluruhan saat ini adalah 35 poin, yang menggambarkan kecenderungan pasar yang cenderung bearish dan berisiko mengalami tekanan jual.

Berdasarkan analisa tersebut, sistem memberikan rekomendasi untuk SELL. Sinyal bearish kuat terdeteksi; beberapa indikator menunjukkan potensi penurunan lebih lanjut.

Strategi yang disarankan: Keluar pada harga saat ini atau saat terjadi rebound menuju MA5. Target harga berada di kisaran Pertimbangkan masuk kembali di 98 (near support), dengan batas stop loss di sekitar Minimalkan kerugian, keluar saat harga menguat. Hindari membeli saat harga masih turun. Tunggu konfirmasi pembalikan tren.

TradingView Chart
Memuat grafik...
Volume & Frekuensi
Foreign Net Buy (lot)
Pasar Nego & Pasar Tunai (Non Regular)
Artikel

Efek Diderot di Portofolio Saham: Ketika Satu Perubahan Memicu Rantai Keputusan Buruk

Pernahkah Anda mengalami ini: Anda membeli satu saham baru karena tergoda dengan prospeknya. Lalu tanpa sadar, Anda mulai merasa bahwa saham-saham lama Anda "kurang baik" dibandingkan saham baru ini. Anda mulai menjual saham lama yang sebenarnya masih bagus, hanya karena ingin "menyesuaikan" portofolio dengan pembelian baru Anda. Atau skenario lain: Anda menjual satu saham karena butuh uang tunai. Lalu Anda merasa bahwa portofolio Anda "tidak seimbang" tanpa saham itu. Anda buru-buru membeli saham lain yang tidak Anda pahami hanya untuk "mengisi kekosongan." Fenomena ini memiliki nama: Efek Diderot. Dinamai dari filsuf Prancis Denis Diderot, yang menulis esai tentang bagaimana hadiah jubah merah mewah yang ia terima membuatnya merasa bahwa semua barang lain di ruang kerjanya (yang sederhana) menjadi "tidak layak." Ia kemudian berhutang untuk membeli...

Artikel menarik lainnya:

  1. Marubozu (Bullish & Bearish): Candlestik Tanpa Bayangan yang Menunjukkan Kekuatan Ekstrem
  2. Accumulation/Distribution Line (A/D Line) – Mengukur Aliran Uang yang Sebenarnya
  3. P/NAV: Kunci Menilai Reksadana Properti Sebelum Investasi
  4. Three White Soldiers: Tiga Serdawan Putih Penanda Kekuatan Bullish
  5. Triple Top: Tiga Puncak yang Menandai Berakhirnya Tren Naik
  6. Ketika Keajaiban Menjadi Bencana: Memahami Rasio Extraordinary Items terhadap Laba
  7. The 1-2-3-4 Pattern: Pola Continuation dan Breakout dari Joe Ross
  8. Time Series Forecast: Memprediksi Harga Masa Depan dari Pola Masa Lalu
  9. Tristar: Pola Tiga Doji yang Menandakan Titik Balik Pasar
  10. ROE: Mengapa Angka 15% di Bank Berbeda Arti dengan 15% di Pabrik?

TradingView Chart - MDIA