Update: Jumat, 22 Mei 2026

RSGK

PT. Kedoya Adyaraya Tbk.

Rp 910
+5.81%
Volume
17 lot
MA 5
945
MA 20
1.212
RSI
26.15
High
920
Low
860

Harga, MA, RSI
Indikator Teknis
Trend
Strong Downtrend
Volatility (Avg)
4.25%
Support (10d)
860
Resistance (10d)
1.275
Volume Trend (10d)
+198.2%
Score
55
Win Rate (30d)
30 %
P/L (30d)
-22.22 %
Sinyal Trading
Bearish MA Cross: Death Cross (MA5 < MA20)
Bearish Price Position: Price below MA5 (Short-term bearish)
Bullish RSI: Oversold (26.2) - Potential reversal
Bearish Volume: Low volume - Weak momentum
Bullish Foreign Flow: Foreign net buying (Last 5 days avg: 40 lot)

Berdasarkan hasil perhitungan indikator teknikal, saham RSGK saat ini menunjukkan kecenderungan strong downtrend pada periode perdagangan terakhir. Nilai RSI saat ini adalah 26.2, yang menandakan bahwa saham berada pada kondisi jenuh jual (oversold) sehingga berpotensi mengalami pembalikan arah ke atas.

Tingkat volatilitas rata-rata dalam beberapa hari terakhir tercatat sebesar 4.25%. Area support terdekat berada di sekitar Rp860, sementara area resistance terdekat berada di kisaran Rp1.275.

Skor teknikal keseluruhan saat ini adalah 55 poin, yang menggambarkan kecenderungan pasar yang relatif netral dan belum menunjukkan arah pasti.

Berdasarkan analisa tersebut, sistem memberikan rekomendasi untuk HOLD. Sinyal campuran muncul. Pasar menunjukkan ketidakpastian tanpa arah yang jelas saat ini.

Strategi yang disarankan: Tunggu breakout diatas 1.275 (resistance). Target harga berada di kisaran Target setelah terjadi breakout: 1.403, dengan batas stop loss di sekitar Dibawah 860 (support). Dibutuhkan kesabaran. Pantau lonjakan volume dan konfirmasi arah tren.

TradingView Chart
Memuat grafik...
Volume & Frekuensi
Foreign Net Buy (lot)
Pasar Nego & Pasar Tunai (Non Regular)
Artikel

Recency vs Primacy Effect: Mana yang Lebih Mengendalikan Keputusan Saham Anda?

Dua investor membaca laporan keuangan perusahaan yang sama. Investor A paling terkesan dengan laba fantastis yang diumumkan bulan lalu. Ia mengabaikan tren penurunan dalam tiga tahun terakhir karena data terbaru terasa paling relevan. Ia membeli saham tersebut. Investor B paling terkesan dengan kinerja buruk perusahaan dua tahun lalu saat pandemi. Ia mengabaikan pemulihan signifikan dalam dua kuartal terakhir karena kesan awal terlalu kuat. Ia melewatkan peluang membeli di harga murah. Dua investor yang sama-sama membaca data yang sama, tetapi mengambil keputusan berbeda. Keduanya menjadi korban dari bias yang berlawanan: recency effect (Investor A) dan primacy effect (Investor B). Artikel ini akan membahas dua bias yang sering disebut sebagai "saudara kembar yang bermusuhan"—sama-sama mempengaruhi bagaimana kita menimbang data, tetapi dengan cara yang bertolak belakang. Apa Itu...

Artikel menarik lainnya:

  1. Graph Anosognosia: Ketika Trader Tidak Tahu Bahwa Mereka Tidak Tahu
  2. Gann Hexagon: Geometri Segi Enam untuk Support dan Resistance Pasar
  3. Lizard: Pola Harmonic Versi Carney yang Unik dan Langka
  4. Perbedaan Trading Saham Reguler vs Cash Market: Panduan Lengkap untuk Pemula
  5. Combined Ratio: Tolok Ukur Sejati Profitabilitas Asuransi Umum
  6. Mengenal Aroon: Menangkap Momentum dengan Crossover Aroon Up dan Aroon Down
  7. Payback Period: Seberapa Cepat Investasi Anda Kembali?
  8. Aktiva Lancar vs Aktiva Tetap: Memahami Struktur Aset Perusahaan
  9. Gann Square of 144: Master Square untuk Analisis Harga dan Waktu
  10. Chaikin Volatility – Mengukur Kecepatan Perubahan Harga

TradingView Chart - RSGK