Update: Rabu, 10 Juni 2026

TRJA

PT. Transkon Jaya Tbk.

Rp 113
+9.71%
Volume
3.077 lot
MA 5
107
MA 20
122
RSI
30.43
High
114
Low
100
Nilai
30/100
Rekomendasi
SELL *

* Rekomendasi hanya berdasarkan sistem teknikal analisis, gabungkan dengan indikator lain seperti: analisa transaksi, broker summary, narasi dan atau corporate action untuk hasil trading lebih optimal.

Harga, MA, RSI
Indikator Teknis
Trend
Downtrend
Volatility (Avg)
2.32%
Support (10d)
89
Resistance (10d)
129
Volume Trend (10d)
-89.9%
Score
30
Win Rate (30d)
30 %
P/L (30d)
-18.12 %
Sinyal Trading
Bearish MA Cross: Death Cross (MA5 < MA20)
Bullish Price Position: Price above MA5 (Short-term bullish)
Neutral RSI: Neutral (30.4)
Bearish Volume: Low volume - Weak momentum
Bearish Foreign Flow: Foreign net selling (Last 5 days avg: -94 lot)

Berdasarkan hasil perhitungan indikator teknikal, saham TRJA saat ini menunjukkan kecenderungan downtrend pada periode perdagangan terakhir. Nilai RSI saat ini adalah 30.4, yang menandakan bahwa momentum pergerakan harga masih tergolong stabil di area netral.

Tingkat volatilitas rata-rata dalam beberapa hari terakhir tercatat sebesar 2.32%. Area support terdekat berada di sekitar Rp89, sementara area resistance terdekat berada di kisaran Rp129.

Skor teknikal keseluruhan saat ini adalah 30 poin, yang menggambarkan kecenderungan pasar yang cenderung bearish dan berisiko mengalami tekanan jual.

Berdasarkan analisa tersebut, sistem memberikan rekomendasi untuk SELL. Sinyal bearish kuat terdeteksi; beberapa indikator menunjukkan potensi penurunan lebih lanjut.

Strategi yang disarankan: Keluar pada harga saat ini atau saat terjadi rebound menuju MA5. Target harga berada di kisaran Pertimbangkan masuk kembali di 85 (near support), dengan batas stop loss di sekitar Minimalkan kerugian, keluar saat harga menguat. Hindari membeli saat harga masih turun. Tunggu konfirmasi pembalikan tren.

TradingView Chart
Memuat grafik...
Volume & Frekuensi
Foreign Net Buy (lot)
Pasar Nego & Pasar Tunai (Non Regular)
Artikel

Stress Testing Portofolio pada Skenario Crash: Apakah Anda Siap Menghadapi Hari Terburuk?

Setiap investor saham percaya bahwa mereka siap menghadapi pasar yang turun. Namun kenyataannya, ketika crash benar-benar terjadi—IHSG jatuh 10% dalam sehari, atau 30% dalam sebulan—banyak yang panik dan menjual di titik terendah. Mengapa? Karena mereka tidak pernah secara sungguh-sungguh menguji bagaimana portofolio mereka akan berperilaku dalam skenario terburuk. Stress testing adalah proses simulasi untuk menjawab pertanyaan kritis: "Apa yang terjadi pada portofolio saya jika terjadi krisis seperti tahun 2008, 2013, atau 2020?" Artikel ini akan memandu Anda melakukan stress test sederhana namun efektif untuk portofolio saham Anda. Apa Itu Stress Testing Portofolio? Stress testing adalah teknik manajemen risiko yang mensimulasikan kinerja portofolio Anda di bawah kondisi pasar yang ekstrem namun masuk akal (plausible). Bedanya dengan sekadar menghitung Value at Risk (VaR) yang berbasis statistik normal:...

Artikel menarik lainnya:

  1. Price to GMV: Tolok Ukur Valuasi untuk E-commerce dan Marketplace
  2. Renko Chart (Pola Bata) – Trading Tanpa Noise Waktu
  3. Bump and Run (BARR): Ketika Harga "Menabrak" Lalu "Berlari"
  4. Rasio Kas terhadap Utang Lancar: Ukuran Paling Keras Kemampuan Bayar Utang dalam 24 Jam
  5. Rasio LTV/CAC: Ukuran Paling Jujur Kesehatan Saham Digital
  6. Rounding Top (Dome): Kubah yang Menandai Perlahan Berakhirnya Tren Naik
  7. Rasio BOPO: Mengukur Efisiensi Operasional Bank Sebelum Membeli Sahamnya
  8. Membaca "Tanda Tangan" Kecurangan: Analisis Fraud Detection dari Laporan Laba Rugi
  9. Bump and Run Reversal (BARR): Pola Pembalikan yang Jarang Dikenal
  10. Gartley: Formasi Harmonis yang Memadukan Geometri dan Fibonacci

TradingView Chart - TRJA