Update: Jumat, 22 Mei 2026

ARCI

PT. Archi Indonesia Tbk.

Rp 1.210
+10.00%
Volume
629.682 lot
MA 5
1.203
MA 20
1.453
RSI
28.57
High
1.215
Low
1.050

Harga, MA, RSI
Indikator Teknis
Trend
Downtrend
Volatility (Avg)
3.17%
Support (10d)
1.050
Resistance (10d)
1.625
Volume Trend (10d)
+29.9%
Score
80
Win Rate (30d)
33.33 %
P/L (30d)
-22.44 %
Sinyal Trading
Bearish MA Cross: Death Cross (MA5 < MA20)
Bullish Price Position: Price above MA5 (Short-term bullish)
Bullish RSI: Oversold (28.6) - Potential reversal
Neutral Volume: Normal volume
Bullish Foreign Flow: Foreign net buying (Last 5 days avg: 58.393 lot)

Berdasarkan hasil perhitungan indikator teknikal, saham ARCI saat ini menunjukkan kecenderungan downtrend pada periode perdagangan terakhir. Nilai RSI saat ini adalah 28.6, yang menandakan bahwa saham berada pada kondisi jenuh jual (oversold) sehingga berpotensi mengalami pembalikan arah ke atas.

Tingkat volatilitas rata-rata dalam beberapa hari terakhir tercatat sebesar 3.17%. Area support terdekat berada di sekitar Rp1.050, sementara area resistance terdekat berada di kisaran Rp1.625.

Skor teknikal keseluruhan saat ini adalah 80 poin, yang menggambarkan kecenderungan pasar yang bullish kuat dan mendukung peluang kenaikan harga.

Berdasarkan analisa tersebut, sistem memberikan rekomendasi untuk BUY. Sinyal bullish kuat terdeteksi; beberapa indikator menunjukkan momentum positif dengan rasio risk/reward yang menarik.

Strategi yang disarankan: Harga saat ini: 1.210 atau saat terjadi pullback ke MA5. Target harga berada di kisaran 1.392 - 1.513 (15-25%), dengan batas stop loss di sekitar 1.150 (5% below entry). Gunakan manajemen risiko (money management) dan pantau arus dana asing.

TradingView Chart
Memuat grafik...
Volume & Frekuensi
Foreign Net Buy (lot)
Pasar Nego & Pasar Tunai (Non Regular)
Artikel

Mengenal TMA (Triangular Moving Average): Rata-rata Bergerak yang Paling Halus

Dalam analisis teknikal saham, moving average adalah salah satu alat paling fundamental. Setelah mengenal SMA (Simple Moving Average), EMA (Exponential Moving Average), WMA (Weighted Moving Average), dan HMA (Hull Moving Average), kini saatnya mengenal satu jenis moving average lagi yang mungkin kurang populer tetapi memiliki keunikan tersendiri: TMA (Triangular Moving Average). TMA adalah jenis moving average yang memberikan bobot lebih besar pada harga-harga di tengah-tengah periode, bukan pada harga terbaru seperti EMA atau WMA. Hasilnya adalah garis moving average yang paling halus di antara semua jenis MA, sangat baik untuk mengidentifikasi tren jangka panjang tanpa gangguan noise harga jangka pendek. Artikel ini akan membahas secara lengkap tentang Triangular Moving Average (TMA), mulai dari cara perhitungan, karakteristik, kelebihan dan kekurangan, perbedaan dengan MA lainnya, hingga...

Artikel menarik lainnya:

  1. Over-trading karena Nafsu Balas Dendam: Saat Emosi Menghancurkan Akun Trading
  2. Memahami IHSG: Barometer Kesehatan Pasar Modal Indonesia
  3. Menimbang Ketidakpastian: Valuasi dengan Risk Adjusted Discounted Cash Flow (DCF)
  4. The Pinocchio Bar: Sumbu Panjang yang Berbohong dan Menjadi Sinyal Reversal
  5. Point and Figure – Trading dengan Kolom X dan O yang Tak Lekang Waktu
  6. Status Quo Bias: Bahaya Malas Menyeimbangkan Kembali Portofolio
  7. Apa Itu PBV (Price to Book Value)? Panduan Mudah untuk Pemula
  8. Falling Three Methods: Konsolidasi di Tengah Penurunan yang Mematikan
  9. Harami Bearish: Saat Pasar "Mengandung" Potensi Pembalikan Turun
  10. NPL (Non Performing Loan): Mengukur Risiko Kredit Macet Sebelum Membeli Saham Bank

TradingView Chart - ARCI