Update: Selasa, 18 Agustus 2026

MAIN

PT. Malindo Feedmill Tbk.

Rp 670
+0.75%
Volume
5.466 lot
MA 5
670
MA 20
688
RSI
34.78
High
675
Low
660
Nilai
10/100
Rekomendasi
SELL *

* Rekomendasi hanya berdasarkan sistem teknikal analisis (MA5, MA20, RSI, Volume dan Foreign Flow), gabungkan dengan indikator lain seperti: analisa transaksi, broker summary, narasi atau corporate action untuk hasil trading lebih optimal.

Harga, MA, RSI
Indikator Teknis
Trend
Downtrend
Volatility (Avg)
1.34%
Support (10d)
650
Resistance (10d)
690
Volume Trend (10d)
-59.9%
Score
10
Win Rate (30d)
40 %
P/L (30d)
0.00 %
Sinyal Trading
Bearish MA Cross: Death Cross (MA5 < MA20)
Bearish Price Position: Price below MA5 (Short-term bearish)
Neutral RSI: Neutral (34.8)
Bearish Volume: Low volume - Weak momentum
Bearish Foreign Flow: Foreign net selling (Last 5 days avg: -2.194 lot)

Berdasarkan hasil perhitungan indikator teknikal, saham MAIN saat ini menunjukkan kecenderungan downtrend pada periode perdagangan terakhir. Nilai RSI saat ini adalah 34.8, yang menandakan bahwa momentum pergerakan harga masih tergolong stabil di area netral.

Tingkat volatilitas rata-rata dalam beberapa hari terakhir tercatat sebesar 1.34%. Area support terdekat berada di sekitar Rp650, sementara area resistance terdekat berada di kisaran Rp690.

Skor teknikal keseluruhan saat ini adalah 10 poin, yang menggambarkan kecenderungan pasar yang cenderung bearish dan berisiko mengalami tekanan jual.

Berdasarkan analisa tersebut, sistem memberikan rekomendasi untuk SELL. Sinyal bearish kuat terdeteksi; beberapa indikator menunjukkan potensi penurunan lebih lanjut.

Strategi yang disarankan: Keluar pada harga saat ini atau saat terjadi rebound menuju MA5. Target harga berada di kisaran Pertimbangkan masuk kembali di 618 (near support), dengan batas stop loss di sekitar Minimalkan kerugian, keluar saat harga menguat. Hindari membeli saat harga masih turun. Tunggu konfirmasi pembalikan tren.

TradingView Chart
Memuat grafik...
Volume & Frekuensi
Foreign Net Buy (lot)
Pasar Nego & Pasar Tunai (Non Regular)
Artikel

Lump Sum vs DCA: Mana Lebih Unggul? Perdebatan Klasik yang Wajib Dipahami Investor

Anda baru saja mendapat bonus tahunan atau menjual aset senilai ratusan juta rupiah. Dana itu ingin diinvestasikan ke saham. Pertanyaan yang langsung muncul: Masukkan semua sekarang (lump sum) atau dicicil bertahap (DCA)? Perdebatan antara Lump Sum dan Dollar Cost Averaging (DCA) adalah salah satu diskusi paling klasik di dunia investasi. Kedua kubu memiliki argumen kuat. Mari bedah tuntas, sehingga Anda bisa memutuskan berdasarkan data dan profil risiko, bukan sekadar firasat. Definisi Singkat Lump Sum: Menginvestasikan seluruh dana yang tersedia sekaligus saat ini juga. DCA (Dollar Cost Averaging): Memecah dana tersebut menjadi beberapa bagian dan menginvestasikannya secara berkala (misalnya bulanan) dalam jangka waktu tertentu, terlepas dari kondisi pasar. Tinjauan Data: Apa Kata Riset? Berbagai penelitian dari lembaga keuangan ternama (termasuk Vanguard dan Fidelity) dengan jangka waktu...

Artikel menarik lainnya:

  1. Rickshaw Man: Doji Berekor Panjang yang Sarat Sinyal
  2. The 1-2-3 Pattern: Pola Reversal Sederhana dari Joe Ross
  3. Stacked Imbalance: Membaca Sinyal Ketidakseimbangan Order
  4. Kagi Chart – Garis Tebal dan Tipis yang Menceritakan Sentimen Pasar
  5. Multi-Factor Portfolio ala Cliff Asness: Menggabungkan Kekuatan Faktor untuk Kinerja Superior
  6. Rasio Enterprise Value terhadap Pendapatan (EV/Sales): Ukuran Terbaik untuk Saham yang Belum Untung
  7. Earnings Yield: Membalik PER untuk Melihat Imbal Hasil Saham Anda
  8. Seasonal Pattern: Januari, Ramadhan, dan Efek Kalender dalam Saham
  9. Membaca Pasar Lewat Perasaan: Mengenal AAII Sentiment Survey
  10. Memahami IHSG: Barometer Kesehatan Pasar Modal Indonesia

TradingView Chart - MAIN