Update: Jumat, 22 Mei 2026

BIPI

PT. Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk.

Rp 184
+6.98%
Volume
24.216.227 lot
MA 5
197
MA 20
231
RSI
30.68
High
184
Low
151

Harga, MA, RSI
Indikator Teknis
Trend
Strong Downtrend
Volatility (Avg)
4.99%
Support (10d)
151
Resistance (10d)
260
Volume Trend (10d)
+73.3%
Score
50
Win Rate (30d)
50 %
P/L (30d)
-22.69 %
Sinyal Trading
Bearish MA Cross: Death Cross (MA5 < MA20)
Bearish Price Position: Price below MA5 (Short-term bearish)
Neutral RSI: Neutral (30.7)
Bullish Volume: Volume spike - High activity
Bullish Foreign Flow: Foreign net buying (Last 5 days avg: 366.033 lot)

Berdasarkan hasil perhitungan indikator teknikal, saham BIPI saat ini menunjukkan kecenderungan strong downtrend pada periode perdagangan terakhir. Nilai RSI saat ini adalah 30.7, yang menandakan bahwa momentum pergerakan harga masih tergolong stabil di area netral.

Tingkat volatilitas rata-rata dalam beberapa hari terakhir tercatat sebesar 4.99%. Area support terdekat berada di sekitar Rp151, sementara area resistance terdekat berada di kisaran Rp260.

Skor teknikal keseluruhan saat ini adalah 50 poin, yang menggambarkan kecenderungan pasar yang relatif netral dan belum menunjukkan arah pasti.

Berdasarkan analisa tersebut, sistem memberikan rekomendasi untuk SELL. Kecenderungan masih bearish, namun momentum melemah; rasio risk–reward kurang menarik.

Strategi yang disarankan: Exit jika terjadi rally menuju resistance. Target harga berada di kisaran Evaluasi kembali pada level support: 151, dengan batas stop loss di sekitar Batas risiko: di atas level tertinggi terbaru. Tetap menunggu sampai muncul sinyal yang lebih jelas.

TradingView Chart
Memuat grafik...
Volume & Frekuensi
Foreign Net Buy (lot)
Pasar Nego & Pasar Tunai (Non Regular)
Artikel

Valuasi Saham Perkebunan dengan Harga CPO: Mengikuti Irama Komoditas

Di antara berbagai sektor yang ada di bursa saham, sektor perkebunan memiliki karakteristik yang paling unik dan, boleh dibilang, paling "dramatis". Kinerja perusahaan perkebunan, terutama kelapa sawit, sangat ditentukan oleh satu variabel kunci yang berada di luar kendali manajemen: Harga CPO (Crude Palm Oil) atau harga minyak sawit mentah di pasar global. Ketika harga CPO melambung, laba perusahaan perkebunan ikut terdongkrak, harga saham pun meroket. Ketika harga CPO anjlok, laba tergerus, dan harga saham pun ikut terperosok. Fluktuasi ini bisa sangat ekstrem, menciptakan peluang besar sekaligus risiko besar bagi investor. Artikel ini akan membahas secara mendalam bagaimana melakukan valuasi saham perkebunan dengan menggunakan harga CPO sebagai variabel sentral. Anda akan mempelajari metode-metode praktis, indikator kunci, serta strategi untuk memanfaatkan siklus komoditas ini. Mengapa Harga CPO...

Artikel menarik lainnya:

  1. Buyback Saham: Ketika Perusahaan Membeli Kembali Sahamnya Sendiri
  2. Mengenal Kelas Saham: Perbedaan Blue Chip, Second Liner, dan Gorengan
  3. TRIX: Triple Smoothed EMA untuk Menyaring Noise Pasar
  4. Money Flow Index (MFI): RSI yang Memperhitungkan Volume
  5. Coppock Curve: Sinyal Beli Legendaris untuk Menangkap Bottom Pasar
  6. Market Risk Premium: Harga yang Harus Dibayar untuk Keberanian Memegang Saham
  7. Analisis SOTP (Sum of The Parts): Membongkar Nilai Tersembunyi di Perusahaan Konglomerasi
  8. Homing Pigeon: Pola Merpati yang Membawa Kabar Baik di Tengah Kepanikan
  9. Confirmation Bias: Bahaya Hanya Mencari Bukti yang Membenarkan Diri Sendiri
  10. The 2B Pattern: Pola False Breakout Reversal dari Joe Ross

TradingView Chart - BIPI