Update: Jumat, 22 Mei 2026

GMFI

PT. Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk.

Rp 52
0.00%
Volume
674.845 lot
MA 5
53
MA 20
59
RSI
6.25
High
53
Low
51

Harga, MA, RSI
Indikator Teknis
Trend
Strong Downtrend
Volatility (Avg)
2.35%
Support (10d)
50
Resistance (10d)
63
Volume Trend (10d)
-2.8%
Score
60
Win Rate (30d)
26.67 %
P/L (30d)
-13.33 %
Sinyal Trading
Bearish MA Cross: Death Cross (MA5 < MA20)
Bearish Price Position: Price below MA5 (Short-term bearish)
Bullish RSI: Oversold (6.3) - Potential reversal
Neutral Volume: Normal volume
Bullish Foreign Flow: Foreign net buying (Last 5 days avg: 51.298 lot)

Berdasarkan hasil perhitungan indikator teknikal, saham GMFI saat ini menunjukkan kecenderungan strong downtrend pada periode perdagangan terakhir. Nilai RSI saat ini adalah 6.3, yang menandakan bahwa saham berada pada kondisi jenuh jual (oversold) sehingga berpotensi mengalami pembalikan arah ke atas.

Tingkat volatilitas rata-rata dalam beberapa hari terakhir tercatat sebesar 2.35%. Area support terdekat berada di sekitar Rp50, sementara area resistance terdekat berada di kisaran Rp63.

Skor teknikal keseluruhan saat ini adalah 60 poin, yang menggambarkan kecenderungan pasar yang bullish moderat dan masih cukup positif.

Berdasarkan analisa tersebut, sistem memberikan rekomendasi untuk BUY. Beberapa indikator mendukung arah naik, namun konfirmasi tambahan masih dibutuhkan.

Strategi yang disarankan: Tunggu konfirmasi di 53 disertai lonjakan volume. Target harga berada di kisaran 57 - 60 (10-15%), dengan batas stop loss di sekitar 48 (7% below entry). Disarankan entry secara konservatif; waspadai potensi breakdown di bawah support.

TradingView Chart
Memuat grafik...
Volume & Frekuensi
Foreign Net Buy (lot)
Pasar Nego & Pasar Tunai (Non Regular)
Artikel

Ribuan Skenario Masa Depan: Analisis Monte Carlo untuk Proyeksi Laba dalam Investasi Saham

Seorang investor mencoba memproyeksikan laba perusahaan tambang batu bara. Harga batu bara sulit diprediksi, nilai tukar rupiah berfluktuasi, volume produksi tergantung cuaca, dan biaya operasional bisa naik kapan saja. Ia membuat satu proyeksi "base case" dengan asumsi harga batu bara Rp1,5 juta per ton dan kurs Rp15.000 per dolar. Hasilnya: laba naik 25% tahun depan. Ia pun membeli saham. Namun enam bulan kemudian, harga batu bara turun menjadi Rp1,2 juta dan kurs melemah ke Rp16.000. Laba perusahaan anjlok 40%. Harga saham ikut terperosok. Investor itu kebingungan: "Bukankah proyeksi saya menunjukkan kenaikan laba?" Masalahnya: ia hanya membuat satu skenario — satu titik di ruang kemungkinan yang tak terbatas. Dunia nyata tidak berjalan dalam satu garis lurus. Analisis Monte Carlo adalah solusi untuk masalah ini. Dengan menjalankan...

Artikel menarik lainnya:

  1. On Balance Volume (OBV) – Pola Divergence dan Trendline Break
  2. Analisis Minority Interest: Jangan Keliru Menilai Kepemilikan Laba dalam Laporan Keuangan
  3. Mengenal MACD: Crossover, Divergence Histogram, dan Zero Line Crossing
  4. Portfolio Rebalancing: Bulanan vs Tahunan, Mana yang Lebih Menguntungkan?
  5. Valuasi Saham Batu Bara dengan Harga Komoditas: Ekstrem, Volatil, dan Penuh Peluang
  6. Valuasi Saham Properti dengan RNAV: Menggali Nilai Tersembunyi di Balik Lahan dan Proyek
  7. The Hook Pattern: Versi Lain dari Hook Reversal dalam Sistem Joe Ross
  8. Weekly Review: Mengukur Kinerja Trading dengan Profit Factor, Win Rate, dan Average RRR
  9. Apa Itu SID (Single Investor Identification)? Kunci untuk Memulai Investasi Saham
  10. Gaji Bos vs Keuntungan Perusahaan: Mengukur Rasio Kompensasi Manajemen terhadap Laba Bersih

TradingView Chart - GMFI