Update: Jumat, 22 Mei 2026

BSSR

PT. Baramulti Suksessarana Tbk.

Rp 3.960
+2.06%
Volume
6.077 lot
MA 5
3.952
MA 20
3.996
RSI
42.42
High
4.000
Low
3.850

Harga, MA, RSI
Indikator Teknis
Trend
Downtrend
Volatility (Avg)
0.43%
Support (10d)
3.850
Resistance (10d)
4.030
Volume Trend (10d)
+42.4%
Score
45
Win Rate (30d)
33.33 %
P/L (30d)
-1.49 %
Sinyal Trading
Bearish MA Cross: Death Cross (MA5 < MA20)
Bullish Price Position: Price above MA5 (Short-term bullish)
Neutral RSI: Neutral (42.4)
Bullish Volume: Volume spike - High activity
Bearish Foreign Flow: Foreign net selling (Last 5 days avg: -322 lot)

Berdasarkan hasil perhitungan indikator teknikal, saham BSSR saat ini menunjukkan kecenderungan downtrend pada periode perdagangan terakhir. Nilai RSI saat ini adalah 42.4, yang menandakan bahwa momentum pergerakan harga masih tergolong stabil di area netral.

Tingkat volatilitas rata-rata dalam beberapa hari terakhir tercatat sebesar 0.43%. Area support terdekat berada di sekitar Rp3.850, sementara area resistance terdekat berada di kisaran Rp4.030.

Skor teknikal keseluruhan saat ini adalah 45 poin, yang menggambarkan kecenderungan pasar yang relatif netral dan belum menunjukkan arah pasti.

Berdasarkan analisa tersebut, sistem memberikan rekomendasi untuk SELL. Kecenderungan masih bearish, namun momentum melemah; rasio risk–reward kurang menarik.

Strategi yang disarankan: Exit jika terjadi rally menuju resistance. Target harga berada di kisaran Evaluasi kembali pada level support: 3.850, dengan batas stop loss di sekitar Batas risiko: di atas level tertinggi terbaru. Tetap menunggu sampai muncul sinyal yang lebih jelas.

TradingView Chart
Memuat grafik...
Volume & Frekuensi
Foreign Net Buy (lot)
Pasar Nego & Pasar Tunai (Non Regular)
Artikel

Menentukan Stop Loss dan Take Profit yang Realistis: Seni Melindungi Modal dan Mengamankan Keuntungan

Dua orang investor membeli saham yang sama di harga yang sama: Rp10.000. Investor A memasang stop loss di Rp9.500 (turun 5%) dan take profit di Rp12.000 (naik 20%). Ketika harga turun ke Rp9.500, ia cut loss tanpa emosi. Kerugiannya kecil. Ia masih punya modal untuk transaksi lain. Investor B tidak memasang stop loss. Ia berharap harga akan naik kembali. Harga terus turun ke Rp7.000. Ia panik, tidak tahu harus apa. Akhirnya ia menjual di harga terendah, rugi besar. Sementara itu, investor C juga membeli di Rp10.000. Ia memasang stop loss di Rp9.500 dan take profit di Rp10.500 (naik 5%). Harga naik ke Rp10.500, ia ambil untung. Namun harga terus naik hingga Rp13.000. Ia menyesal karena menjual terlalu cepat. Apa yang membedakan ketiganya? Investor A memiliki...

Artikel menarik lainnya:

  1. Dark Cloud Cover: Pola Awan Gelap yang Menandakan Pembalikan Bearish
  2. Rounding Top (Dome): Kubah yang Menandai Perlahan Berakhirnya Tren Naik
  3. Mengintip “Gunung Es” Laporan Keuangan: Analisis Off-Balance Sheet Items dalam Dunia Saham
  4. Rasio Beta: Mengukur Kepekaan Saham Anda terhadap IHSG
  5. Jembatan antara Utang dan Ekuitas: Memahami Rasio Konversi Obligasi Konversi
  6. Ketika Aset Fisik Hampir Tidak Ada: Memahami Rasio P/TBV untuk Perusahaan Teknologi
  7. Strategi Barbell: Keseimbangan Ekstrem untuk Hasil Optimal
  8. Analisis Final: Fundamental vs Harga Pasar – Ketika Realitas Bertemu Persepsi
  9. Market Facilitation Index (MFI) Bill Williams: Membaca Hubungan Harga dan Volume
  10. Three Drives: Tiga Dorongan yang Membentuk Pembalikan Sempurna

TradingView Chart - BSSR