Update: Senin, 5 Oktober 2026

INPC

PT. Bank Artha Graha Internasional Tbk.

Rp 155
+11.51%
Volume
296.645 lot
MA 5
143
MA 20
152
RSI
48.78
High
165
Low
138
Nilai
45/100
Rekomendasi
SELL *

* Rekomendasi hanya berdasarkan sistem teknikal analisis (MA5, MA20, RSI, Volume dan Foreign Flow), gabungkan dengan indikator lain seperti: analisa transaksi, broker summary, narasi atau corporate action untuk hasil trading lebih optimal.

Harga, MA, RSI
Indikator Teknis
Trend
Downtrend
Volatility (Avg)
2.44%
Support (10d)
133
Resistance (10d)
165
Volume Trend (10d)
-43.4%
Score
45
Win Rate (30d)
36.67 %
P/L (30d)
8.39 %
Sinyal Trading
Bearish MA Cross: Death Cross (MA5 < MA20)
Bullish Price Position: Price above MA5 (Short-term bullish)
Neutral RSI: Neutral (48.8)
Bullish Volume: Volume spike - High activity
Bearish Foreign Flow: Foreign net selling (Last 5 days avg: -730 lot)

Berdasarkan hasil perhitungan indikator teknikal, saham INPC saat ini menunjukkan kecenderungan downtrend pada periode perdagangan terakhir. Nilai RSI saat ini adalah 48.8, yang menandakan bahwa momentum pergerakan harga masih tergolong stabil di area netral.

Tingkat volatilitas rata-rata dalam beberapa hari terakhir tercatat sebesar 2.44%. Area support terdekat berada di sekitar Rp133, sementara area resistance terdekat berada di kisaran Rp165.

Skor teknikal keseluruhan saat ini adalah 45 poin, yang menggambarkan kecenderungan pasar yang relatif netral dan belum menunjukkan arah pasti.

Berdasarkan analisa tersebut, sistem memberikan rekomendasi untuk SELL. Kecenderungan masih bearish, namun momentum melemah; rasio risk–reward kurang menarik.

Strategi yang disarankan: Exit jika terjadi rally menuju resistance. Target harga berada di kisaran Evaluasi kembali pada level support: 133, dengan batas stop loss di sekitar Batas risiko: di atas level tertinggi terbaru. Tetap menunggu sampai muncul sinyal yang lebih jelas.

TradingView Chart
Memuat grafik...
Volume & Frekuensi
Foreign Net Buy (lot)
Pasar Nego & Pasar Tunai (Non Regular)
Artikel

Loss Aversion: Mengapa Cut Loss Terasa Lebih Sulit daripada Membeli

Setiap trader dan investor pasti pernah mengalaminya: harga saham yang Anda beli mulai turun. Bukan sekadar koreksi wajar, tapi sudah menembus batas stop loss yang sebelumnya Anda tetapkan. Namun jari Anda seolah membeku di atas tombol jual. Anda berpikir, "Mungkin besok naik lagi." Besok datang, harga semakin terpuruk. Anda akhirnya menjual di harga jauh lebih rendah, atau bahkan menyimpannya hingga menjadi "investasi jangka panjang" yang tak direncanakan. Inilah yang disebut loss aversion—salah satu konsep paling kuat dalam psikologi keuangan yang membuat cut loss terasa menyiksa. Apa Itu Loss Aversion? Loss aversion adalah kecenderungan manusia untuk lebih merasakan sakit akibat kerugian daripada kenikmatan dari keuntungan yang besarnya setara. Penelitian peraih Nobel Daniel Kahneman dan Amos Tversky menunjukkan bahwa secara psikologis, rasa sakit karena kehilangan uang Rp1...

Artikel menarik lainnya:

  1. Core Portfolio: Kombinasi Saham Blue Chip dan Obligasi untuk Fondasi Investasi yang Kokoh
  2. Gartley: Formasi Harmonis yang Memadukan Geometri dan Fibonacci
  3. V-Top dan V-Bottom (Spike): Pembalikan Tajam yang Penuh Kejutan
  4. Rasio Effective Tax Rate: Deteksi Manipulasi Laba dan Keunggulan Pajak Tersembunyi
  5. Belt Hold: Candlestik Pembukaan di Harga Tertinggi atau Terendah
  6. Rasio PBV Antar Sektor: Mengapa Bank dan Teknologi Tidak Bisa Dibandingkan secara Langsung
  7. Monte Carlo Simulation untuk Risiko Portofolio: Melihat Ribuan Kemungkinan Masa Depan
  8. Gann Grid – Kotak Geometris yang Memetakan Waktu dan Harga
  9. Analisis Depresiasi dan Amortisasi: Kunci Membaca Kualitas Laba dan Valuasi Saham
  10. Delta Divergence dan CVD: Senjata Baru untuk Membaca Dominasi Pasar

TradingView Chart - INPC