Update: Jumat, 22 Mei 2026

JPFA

PT. Japfa Comfeed Indonesia Tbk.

Rp 2.570
-0.39%
Volume
263.952 lot
MA 5
2.566
MA 20
2.552
RSI
58.44
High
2.590
Low
2.480

Harga, MA, RSI
Indikator Teknis
Trend
Strong Uptrend
Volatility (Avg)
2.42%
Support (10d)
2.380
Resistance (10d)
2.760
Volume Trend (10d)
+50.1%
Score
100
Win Rate (30d)
43.33 %
P/L (30d)
-0.77 %
Sinyal Trading
Bullish MA Cross: Golden Cross (MA5 > MA20)
Bullish Price Position: Price above MA5 (Short-term bullish)
Bullish RSI: Strong momentum (58.4)
Bullish Volume: Volume spike - High activity
Bullish Foreign Flow: Foreign net buying (Last 5 days avg: 25.930 lot)

Berdasarkan hasil perhitungan indikator teknikal, saham JPFA saat ini menunjukkan kecenderungan strong uptrend pada periode perdagangan terakhir. Nilai RSI saat ini adalah 58.4, yang menandakan bahwa momentum pergerakan harga masih tergolong stabil di area netral.

Tingkat volatilitas rata-rata dalam beberapa hari terakhir tercatat sebesar 2.42%. Area support terdekat berada di sekitar Rp2.380, sementara area resistance terdekat berada di kisaran Rp2.760.

Skor teknikal keseluruhan saat ini adalah 100 poin, yang menggambarkan kecenderungan pasar yang bullish kuat dan mendukung peluang kenaikan harga.

Berdasarkan analisa tersebut, sistem memberikan rekomendasi untuk BUY. Sinyal bullish kuat terdeteksi; beberapa indikator menunjukkan momentum positif dengan rasio risk/reward yang menarik.

Strategi yang disarankan: Harga saat ini: 2.570 atau saat terjadi pullback ke MA5. Target harga berada di kisaran 2.956 - 3.213 (15-25%), dengan batas stop loss di sekitar 2.442 (5% below entry). Gunakan manajemen risiko (money management) dan pantau arus dana asing.

TradingView Chart
Memuat grafik...
Volume & Frekuensi
Foreign Net Buy (lot)
Pasar Nego & Pasar Tunai (Non Regular)
Artikel

Standar Emas Investasi: Memahami Model Portofolio 60/40 (Saham vs Pendapatan Tetap)

Dalam dunia investasi, ada banyak sekali strategi dan model portofolio. Mulai dari yang super sederhana (100% saham) hingga yang kompleks (menggunakan derivatif dan komoditas). Namun, selama beberapa dekade, satu model portofolio telah bertahan sebagai titik acuan global bagi investor institusi maupun ritel: Model 60/40. Model ini sangat sederhana: 60% saham (untuk pertumbuhan) dan 40% pendapatan tetap (obligasi/deposito untuk stabilitas). Namun dibalik kesederhanaannya, ada logika yang mendalam dan telah terbukti dalam berbagai siklus pasar. Artikel ini akan mengupas apa itu model 60/40, mengapa ia begitu populer, kelebihan dan kekurangannya, serta apakah model ini masih relevan di era sekarang. Apa Itu Model Portofolio 60/40? Model 60/40 adalah strategi alokasi aset di mana seorang investor mengalokasikan 60% dari portofolionya ke saham (ekuitas) dan 40% ke obligasi atau pendapatan...

Artikel menarik lainnya:

  1. Homing Pigeon: Pola Merpati yang Membawa Kabar Baik di Tengah Kepanikan
  2. Mengenal RSI: Overbought, Oversold, Divergence, Hidden Divergence, dan Support/Resistance pada RSI
  3. Rasio Persistensi Polis: Indikator Kunci Sehat Tidaknya Lini Bisnis Asuransi bagi Investor
  4. Jual Saham Anda, Beli Ketenangan: Pentingnya Libur dari Pasar Saham
  5. Visualisasi Tujuan Keuangan vs Fluktuasi Harian: Jangan Biarkan Pergerakan 5 Menit Menghancurkan Mimpi 5 Tahun
  6. Efek Endowment: Bahaya Cinta Buta pada Saham Milik Sendiri
  7. Memahami IHSG: Barometer Kesehatan Pasar Modal Indonesia
  8. KSEI dan Perannya dalam Penyimpanan Efek: Pilar Keamanan Investasi Pasar Modal
  9. The Outside Bar: Mirip Engulfing tapi dalam Konteks Swing Trading
  10. Membaca Pasar Lewat Perasaan: Mengenal AAII Sentiment Survey

TradingView Chart - JPFA