Update: Senin, 5 Oktober 2026

LRNA

PT. Eka Sari Lorena Transport Tbk.

Rp 216
+1.89%
Volume
769 lot
MA 5
212
MA 20
214
RSI
45.45
High
218
Low
210
Nilai
40/100
Rekomendasi
SELL *

* Rekomendasi hanya berdasarkan sistem teknikal analisis (MA5, MA20, RSI, Volume dan Foreign Flow), gabungkan dengan indikator lain seperti: analisa transaksi, broker summary, narasi atau corporate action untuk hasil trading lebih optimal.

Harga, MA, RSI
Indikator Teknis
Trend
Downtrend
Volatility (Avg)
1.69%
Support (10d)
202
Resistance (10d)
228
Volume Trend (10d)
-64.3%
Score
40
Win Rate (30d)
43.33 %
P/L (30d)
13.09 %
Sinyal Trading
Bearish MA Cross: Death Cross (MA5 < MA20)
Bullish Price Position: Price above MA5 (Short-term bullish)
Neutral RSI: Neutral (45.5)
Bearish Volume: Low volume - Weak momentum
Neutral Foreign Flow: Foreign neutral (Last 5 days avg: 0 lot)

Berdasarkan hasil perhitungan indikator teknikal, saham LRNA saat ini menunjukkan kecenderungan downtrend pada periode perdagangan terakhir. Nilai RSI saat ini adalah 45.5, yang menandakan bahwa momentum pergerakan harga masih tergolong stabil di area netral.

Tingkat volatilitas rata-rata dalam beberapa hari terakhir tercatat sebesar 1.69%. Area support terdekat berada di sekitar Rp202, sementara area resistance terdekat berada di kisaran Rp228.

Skor teknikal keseluruhan saat ini adalah 40 poin, yang menggambarkan kecenderungan pasar yang cenderung bearish dan berisiko mengalami tekanan jual.

Berdasarkan analisa tersebut, sistem memberikan rekomendasi untuk SELL. Kecenderungan masih bearish, namun momentum melemah; rasio risk–reward kurang menarik.

Strategi yang disarankan: Exit jika terjadi rally menuju resistance. Target harga berada di kisaran Evaluasi kembali pada level support: 202, dengan batas stop loss di sekitar Batas risiko: di atas level tertinggi terbaru. Tetap menunggu sampai muncul sinyal yang lebih jelas.

TradingView Chart
Memuat grafik...
Volume & Frekuensi
Foreign Net Buy (lot)
Pasar Nego & Pasar Tunai (Non Regular)
Artikel

Dua Wajah Riset: Membandingkan Kapitalisasi vs Beban Langsung R&D dalam Analisis Saham

Seorang investor sedang membandingkan dua perusahaan farmasi. Keduanya memiliki ukuran dan pendapatan yang hampir sama. Perusahaan A melaporkan laba bersih Rp5 triliun. Perusahaan B hanya Rp3 triliun. "Jelas Perusahaan A lebih menguntungkan," pikir si investor, lalu ia membeli saham Perusahaan A. Namun setahun kemudian, Perusahaan A harus melakukan write-off besar-besaran karena proyek R&D yang dikapitalisasi selama bertahun-tahun ternyata gagal. Laba Perusahaan A anjlok, sementara Perusahaan B tetap stabil. Si investor baru sadar: Perbedaan laba yang dilaporkan bukan karena kinerja operasional berbeda, tetapi karena perbedaan perlakuan akuntansi terhadap R&D. Perusahaan A mengkapitalisasi R&D (mencatatnya sebagai aset di neraca), sehingga beban tahunan lebih kecil dan laba lebih tinggi. Perusahaan B membebankan seluruh R&D langsung (expensed), sehingga laba lebih rendah tetapi lebih konservatif. Artikel ini akan membahas secara...

Artikel menarik lainnya:

  1. Analisis EBITDA: Senjata Ampuh yang Juga Bisa Menyesatkan
  2. The Inside Bar: Range di Dalam Range Sebelumnya sebagai Sinyal Konsolidasi
  3. Receivable Turnover: Mengungkap Bahaya Piutang Macet di Balik Laporan Keuangan
  4. White Swan: Pola Harmonic Bearish yang Jarang Dikenal
  5. Dark Cloud Cover: Pola Awan Gelap yang Menandakan Pembalikan Bearish
  6. Mengenal MACD: Crossover, Divergence Histogram, dan Zero Line Crossing
  7. Cara Analisis Prospektus Sebelum Beli Saham IPO: Jangan Hanya Ikut-ikutan!
  8. Weekly Review: Mengukur Kinerja Trading dengan Profit Factor, Win Rate, dan Average RRR
  9. Dividen dalam Bentuk Lembar Saham: Memahami Rasio Distribusi Saham Bonus
  10. Rainbow Moving Average: Membaca Kekuatan Tren dengan Lapisan Ganda

TradingView Chart - LRNA