Update: Kamis, 15 Oktober 2026

TRST

PT. Trias Sentosa Tbk.

Rp 490
-0.81%
Volume
285 lot
MA 5
494
MA 20
484
RSI
56.25
High
498
Low
480
Nilai
50/100
Rekomendasi
SELL *

* Rekomendasi hanya berdasarkan sistem teknikal analisis (MA5, MA20, RSI, Volume dan Foreign Flow), gabungkan dengan indikator lain seperti: analisa transaksi, broker summary, narasi atau corporate action untuk hasil trading lebih optimal.

Harga, MA, RSI
Indikator Teknis
Trend
Uptrend
Volatility (Avg)
1.82%
Support (10d)
474
Resistance (10d)
500
Volume Trend (10d)
+44.5%
Score
50
Win Rate (30d)
33.33 %
P/L (30d)
6.52 %
Sinyal Trading
Bullish MA Cross: Golden Cross (MA5 > MA20)
Bearish Price Position: Price below MA5 (Short-term bearish)
Bullish RSI: Strong momentum (56.3)
Bearish Volume: Low volume - Weak momentum
Bearish Foreign Flow: Foreign net selling (Last 5 days avg: -76 lot)

Berdasarkan hasil perhitungan indikator teknikal, saham TRST saat ini menunjukkan kecenderungan uptrend pada periode perdagangan terakhir. Nilai RSI saat ini adalah 56.3, yang menandakan bahwa momentum pergerakan harga masih tergolong stabil di area netral.

Tingkat volatilitas rata-rata dalam beberapa hari terakhir tercatat sebesar 1.82%. Area support terdekat berada di sekitar Rp474, sementara area resistance terdekat berada di kisaran Rp500.

Skor teknikal keseluruhan saat ini adalah 50 poin, yang menggambarkan kecenderungan pasar yang relatif netral dan belum menunjukkan arah pasti.

Berdasarkan analisa tersebut, sistem memberikan rekomendasi untuk SELL. Kecenderungan masih bearish, namun momentum melemah; rasio risk–reward kurang menarik.

Strategi yang disarankan: Exit jika terjadi rally menuju resistance. Target harga berada di kisaran Evaluasi kembali pada level support: 474, dengan batas stop loss di sekitar Batas risiko: di atas level tertinggi terbaru. Tetap menunggu sampai muncul sinyal yang lebih jelas.

TradingView Chart
Memuat grafik...
Volume & Frekuensi
Foreign Net Buy (lot)
Pasar Nego & Pasar Tunai (Non Regular)
Artikel

Rasio DER (Debt to Equity Ratio): Batas Aman dan Tanda Bahaya

Setelah mempelajari rasio profitabilitas seperti ROE dan EPS, kini saatnya kita membahas rasio yang mengukur kesehatan finansial perusahaan dari sisi utang, yaitu DER atau Debt to Equity Ratio. Mengapa ini penting? Karena perusahaan yang labanya besar sekalipun bisa bangkrut jika utangnya membebani. Mari kita pahami DER dari dasar. Apa Itu DER? Debt to Equity Ratio (DER) adalah rasio yang membandingkan total utang perusahaan dengan total ekuitas (modal sendiri) yang dimiliki pemegang saham. Sederhananya, DER menjawab pertanyaan: “Berapa rupiah utang yang dimiliki perusahaan untuk setiap Rp100 modal pemegang saham?” Debt (Utang) : Semua kewajiban perusahaan, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Equity (Ekuitas) : Modal sendiri yang berasal dari pemegang saham. Rumus DER Rumus DER sangat sederhana: DER = Total Utang / Total Ekuitas Hasilnya biasanya...

Artikel menarik lainnya:

  1. Margin Trading: Kelebihan dan Bahaya yang Wajib Diketahui Investor
  2. Rasio FCF to Equity (FCFE): Uang Tunai yang Benar-Benar Bisa Diterima Pemegang Saham
  3. Meditasi untuk Trader: Melatih Pikiran agar Tidak Dikendalikan Pasar
  4. Regret Aversion: Ketika Ketakutan Akan Penyesalan Melumpuhkan Keputusan Investasi Anda
  5. Pengaruh Siklus Tidur terhadap Keputusan Trading: Ketika Kantuk Menghancurkan Portofolio
  6. Symmetrical Triangle: Segitiga Simetris yang Netral Namun Penuh Peluang
  7. TRIX: Triple Smoothed EMA untuk Menyaring Noise Pasar
  8. Factor Investing: Pendekatan Sistematis untuk Mendapatkan Kelebihan Return
  9. Strategi Dua Sayap: Mengintegrasikan Saham dengan Reksa Dana untuk Portofolio yang Lebih Kuat
  10. Book Building dan Masa Penawaran IPO: Cara Menentukan Harga Saham Perdana

TradingView Chart - TRST