Update: Jumat, 22 Mei 2026

WINE

PT. Hatten Bali Tbk.

Rp 162
-5.81%
Volume
11.705 lot
MA 5
170
MA 20
180
RSI
7.41
High
167
Low
160

Harga, MA, RSI
Indikator Teknis
Trend
Strong Downtrend
Volatility (Avg)
0.89%
Support (10d)
160
Resistance (10d)
182
Volume Trend (10d)
-6.2%
Score
60
Win Rate (30d)
30 %
P/L (30d)
-8.99 %
Sinyal Trading
Bearish MA Cross: Death Cross (MA5 < MA20)
Bearish Price Position: Price below MA5 (Short-term bearish)
Bullish RSI: Oversold (7.4) - Potential reversal
Neutral Volume: Normal volume
Bullish Foreign Flow: Foreign net buying (Last 5 days avg: 526 lot)

Berdasarkan hasil perhitungan indikator teknikal, saham WINE saat ini menunjukkan kecenderungan strong downtrend pada periode perdagangan terakhir. Nilai RSI saat ini adalah 7.4, yang menandakan bahwa saham berada pada kondisi jenuh jual (oversold) sehingga berpotensi mengalami pembalikan arah ke atas.

Tingkat volatilitas rata-rata dalam beberapa hari terakhir tercatat sebesar 0.89%. Area support terdekat berada di sekitar Rp160, sementara area resistance terdekat berada di kisaran Rp182.

Skor teknikal keseluruhan saat ini adalah 60 poin, yang menggambarkan kecenderungan pasar yang bullish moderat dan masih cukup positif.

Berdasarkan analisa tersebut, sistem memberikan rekomendasi untuk BUY. Beberapa indikator mendukung arah naik, namun konfirmasi tambahan masih dibutuhkan.

Strategi yang disarankan: Tunggu konfirmasi di 165 disertai lonjakan volume. Target harga berada di kisaran 178 - 186 (10-15%), dengan batas stop loss di sekitar 151 (7% below entry). Disarankan entry secara konservatif; waspadai potensi breakdown di bawah support.

TradingView Chart
Memuat grafik...
Volume & Frekuensi
Foreign Net Buy (lot)
Pasar Nego & Pasar Tunai (Non Regular)
Artikel

Loss Aversion: Mengapa Cut Loss Terasa Lebih Sulit daripada Membeli

Setiap trader dan investor pasti pernah mengalaminya: harga saham yang Anda beli mulai turun. Bukan sekadar koreksi wajar, tapi sudah menembus batas stop loss yang sebelumnya Anda tetapkan. Namun jari Anda seolah membeku di atas tombol jual. Anda berpikir, "Mungkin besok naik lagi." Besok datang, harga semakin terpuruk. Anda akhirnya menjual di harga jauh lebih rendah, atau bahkan menyimpannya hingga menjadi "investasi jangka panjang" yang tak direncanakan. Inilah yang disebut loss aversion—salah satu konsep paling kuat dalam psikologi keuangan yang membuat cut loss terasa menyiksa. Apa Itu Loss Aversion? Loss aversion adalah kecenderungan manusia untuk lebih merasakan sakit akibat kerugian daripada kenikmatan dari keuntungan yang besarnya setara. Penelitian peraih Nobel Daniel Kahneman dan Amos Tversky menunjukkan bahwa secara psikologis, rasa sakit karena kehilangan uang Rp1...

Artikel menarik lainnya:

  1. Falling Three Methods: Konsolidasi di Tengah Penurunan yang Mematikan
  2. PEG Ratio: Ketika PER Bertemu Pertumbuhan Laba
  3. Dividen dalam Bentuk Lembar Saham: Memahami Rasio Distribusi Saham Bonus
  4. Mengubah Pola Pikir "Saya Harus Benar" menjadi "Saya Harus Untung": Revolusi Mental dalam Trading
  5. Rasio Dividend Coverage: Seberapa Aman Dividen Perusahaan Anda?
  6. Concealing Baby Swan, Formasi Pembalikan Bullish yang Unik
  7. Receivable Turnover: Mengungkap Bahaya Piutang Macet di Balik Laporan Keuangan
  8. All Weather Portfolio: Solusi Investasi Sepanjang Musim untuk Investor Pasif
  9. Membaca Pikiran Pasar: Cara Market Delta Mengungkap Reversal di Level Ekstrem
  10. Combined Ratio: Tolok Ukur Sejati Profitabilitas Asuransi Umum

TradingView Chart - WINE