Update: Jumat, 22 Mei 2026

AMOR

PT. Ashmore Asset Management Indonesia Tbk.

Rp 344
+0.58%
Volume
1.167 lot
MA 5
347
MA 20
354
RSI
31.25
High
344
Low
330

Harga, MA, RSI
Indikator Teknis
Trend
Strong Downtrend
Volatility (Avg)
1.30%
Support (10d)
322
Resistance (10d)
370
Volume Trend (10d)
-58.9%
Score
10
Win Rate (30d)
30 %
P/L (30d)
-0.58 %
Sinyal Trading
Bearish MA Cross: Death Cross (MA5 < MA20)
Bearish Price Position: Price below MA5 (Short-term bearish)
Neutral RSI: Neutral (31.3)
Bearish Volume: Low volume - Weak momentum
Bearish Foreign Flow: Foreign net selling (Last 5 days avg: -165 lot)

Berdasarkan hasil perhitungan indikator teknikal, saham AMOR saat ini menunjukkan kecenderungan strong downtrend pada periode perdagangan terakhir. Nilai RSI saat ini adalah 31.3, yang menandakan bahwa momentum pergerakan harga masih tergolong stabil di area netral.

Tingkat volatilitas rata-rata dalam beberapa hari terakhir tercatat sebesar 1.30%. Area support terdekat berada di sekitar Rp322, sementara area resistance terdekat berada di kisaran Rp370.

Skor teknikal keseluruhan saat ini adalah 10 poin, yang menggambarkan kecenderungan pasar yang cenderung bearish dan berisiko mengalami tekanan jual.

Berdasarkan analisa tersebut, sistem memberikan rekomendasi untuk SELL. Sinyal bearish kuat terdeteksi; beberapa indikator menunjukkan potensi penurunan lebih lanjut.

Strategi yang disarankan: Keluar pada harga saat ini atau saat terjadi rebound menuju MA5. Target harga berada di kisaran Pertimbangkan masuk kembali di 306 (near support), dengan batas stop loss di sekitar Minimalkan kerugian, keluar saat harga menguat. Hindari membeli saat harga masih turun. Tunggu konfirmasi pembalikan tren.

TradingView Chart
Memuat grafik...
Volume & Frekuensi
Foreign Net Buy (lot)
Pasar Nego & Pasar Tunai (Non Regular)
Artikel

Graph Anosognosia: Ketika Trader Tidak Tahu Bahwa Mereka Tidak Tahu

Ada satu kondisi psikologis yang paling berbahaya di dunia trading, lebih berbahaya daripada FOMO, lebih berbahaya daripada revenge trading, lebih berbahaya daripada overtrading. Kondisi itu adalah: tidak tahu bahwa Anda tidak tahu. Dalam psikologi, kondisi ini disebut anosognosia—ketidakmampuan seseorang untuk menyadari kekurangan atau kondisi mereka sendiri. Penderita anosognosia tidak hanya buta terhadap kelemahan mereka; mereka juga tidak sadar bahwa mereka buta. Dalam konteks trading, saya menyebutnya Graph Anosognosia: kondisi di mana seorang trader yakin bahwa mereka bisa membaca grafik, menganalisis pasar, dan mengambil keputusan yang benar—padahal sebenarnya mereka tidak bisa. Dan yang lebih parah, mereka tidak tahu bahwa mereka tidak bisa. Trader dengan graph anosognosia adalah yang paling sulit diajari. Bukan karena mereka bodoh, tetapi karena mereka tidak menyadari bahwa mereka perlu belajar. Mereka sudah...

Artikel menarik lainnya:

  1. One-Day Reversal (Key Reversal Day): Sinyal Pembalikan Paling Dramatis dalam Satu Hari
  2. Over-trading karena Nafsu Balas Dendam: Saat Emosi Menghancurkan Akun Trading
  3. Climax Volume: Volume Ekstrim di Ujung Tren sebagai Tanda Kelelahan
  4. Rasio Net Debt to EBITDA: Mengukur Beban Utang yang Sebenarnya
  5. Herding Behavior: Bahaya Ikut-ikutan Tanpa Analisis di Pasar Saham
  6. Price per Subscriber: Metrik Kunci Menilai Saham Perusahaan Media Digital
  7. Strip Ratio: Metrik Wajib Sebelum Beli Saham Batubara
  8. The Outside Bar: Mirip Engulfing tapi dalam Konteks Swing Trading
  9. Gravestone Doji: Batu Nisan yang Memperingatkan Kejatuhan Harga
  10. Rasio Price to NCAV: Strategi Klasik Mencari Net-Net Stock dalam Valuasi Saham

TradingView Chart - AMOR