Update: Jumat, 22 Mei 2026

ATLA

PT. Atlantis Subsea Indonesia Tbk.

Rp 50
0.00%
Volume
21.883 lot
MA 5
50
MA 20
53
RSI
16.67
High
50
Low
50

Harga, MA, RSI
Indikator Teknis
Trend
Downtrend
Volatility (Avg)
1.86%
Support (10d)
50
Resistance (10d)
53
Volume Trend (10d)
-93.0%
Score
30
Win Rate (30d)
16.67 %
P/L (30d)
0.00 %
Sinyal Trading
Bearish MA Cross: Death Cross (MA5 < MA20)
Bearish Price Position: Price below MA5 (Short-term bearish)
Bullish RSI: Oversold (16.7) - Potential reversal
Bearish Volume: Low volume - Weak momentum
Bearish Foreign Flow: Foreign net selling (Last 5 days avg: -350 lot)

Berdasarkan hasil perhitungan indikator teknikal, saham ATLA saat ini menunjukkan kecenderungan downtrend pada periode perdagangan terakhir. Nilai RSI saat ini adalah 16.7, yang menandakan bahwa saham berada pada kondisi jenuh jual (oversold) sehingga berpotensi mengalami pembalikan arah ke atas.

Tingkat volatilitas rata-rata dalam beberapa hari terakhir tercatat sebesar 1.86%. Area support terdekat berada di sekitar Rp50, sementara area resistance terdekat berada di kisaran Rp53.

Skor teknikal keseluruhan saat ini adalah 30 poin, yang menggambarkan kecenderungan pasar yang cenderung bearish dan berisiko mengalami tekanan jual.

Berdasarkan analisa tersebut, sistem memberikan rekomendasi untuk SELL. Sinyal bearish kuat terdeteksi; beberapa indikator menunjukkan potensi penurunan lebih lanjut.

Strategi yang disarankan: Keluar pada harga saat ini atau saat terjadi rebound menuju MA5. Target harga berada di kisaran Pertimbangkan masuk kembali di 48 (near support), dengan batas stop loss di sekitar Minimalkan kerugian, keluar saat harga menguat. Hindari membeli saat harga masih turun. Tunggu konfirmasi pembalikan tren.

TradingView Chart
Memuat grafik...
Volume & Frekuensi
Foreign Net Buy (lot)
Pasar Nego & Pasar Tunai (Non Regular)
Artikel

Stopping Volume: Volume Besar tapi Harga Berhenti

Dalam analisis teknikal, volume adalah salah satu alat paling penting untuk mengonfirmasi pergerakan harga. Secara umum, volume yang tinggi seharusnya mendukung pergerakan harga yang kuat. Namun, ada kondisi yang justru sebaliknya: volume sangat besar tetapi harga hampir tidak bergerak atau berhenti sama sekali. Kondisi ini dikenal sebagai Stopping Volume. Istilah ini dipopulerkan oleh Richard Wyckoff, salah satu analis teknikal paling berpengaruh di awal abad ke-20. Stopping volume adalah salah satu konsep kunci dalam metodologi Wyckoff untuk mengidentifikasi titik-titik di mana tren sedang kehabisan tenaga dan akan berbalik arah. Karakteristik Stopping Volume Stopping volume adalah kondisi pasar yang sangat spesifik, di mana terjadi lonjakan volume perdagangan yang signifikan namun harga hanya bergerak dalam rentang yang sangat sempit atau bahkan tidak bergerak sama sekali. Ciri-ciri spesifiknya...

Artikel menarik lainnya:

  1. Strategi Dua Sayap: Mengintegrasikan Saham dengan Reksa Dana untuk Portofolio yang Lebih Kuat
  2. Analisis Relasi Dividend Yield vs Suku Bunga: Kapan Dividen Masih Menarik?
  3. VSA (Volume Spread Analysis) – Membaca Niat Pelaku Pasar Melalui Volume dan Spread
  4. Working Capital Turnover: Seberapa Efisien Perusahaan Mengelola Modal Kerja?
  5. Recency Bias: Bahaya Terpaku pada Kejadian Terakhir di Pasar Saham
  6. Lump Sum vs DCA: Mana Lebih Unggul? Perdebatan Klasik yang Wajib Dipahami Investor
  7. Three Black Crows: Tiga Gagak Hitam Penanda Kekuatan Bearish
  8. Value Averaging (VA): Strategi Cerdas Memaksimalkan Keuntungan Saat Pasar Turun
  9. Analisis Claim Ratio Asuransi Kesehatan: Barometer Profitabilitas yang Tidak Boleh Diabaikan
  10. Index Fund: Cara Paling Sederhana dan Andal untuk Berinvestasi di Saham

TradingView Chart - ATLA