Update: Kamis, 20 Agustus 2026

CSRA

PT. Cisadane Sawit Raya Tbk.

Rp 765
+2.00%
Volume
5.742 lot
MA 5
748
MA 20
758
RSI
38.46
High
780
Low
745
Nilai
70/100
Rekomendasi
BUY *

* Rekomendasi hanya berdasarkan sistem teknikal analisis (MA5, MA20, RSI, Volume dan Foreign Flow), gabungkan dengan indikator lain seperti: analisa transaksi, broker summary, narasi atau corporate action untuk hasil trading lebih optimal.

Harga, MA, RSI
Indikator Teknis
Trend
Downtrend
Volatility (Avg)
1.21%
Support (10d)
730
Resistance (10d)
780
Volume Trend (10d)
-47.8%
Score
70
Win Rate (30d)
46.67 %
P/L (30d)
0.66 %
Sinyal Trading
Bearish MA Cross: Death Cross (MA5 < MA20)
Bullish Price Position: Price above MA5 (Short-term bullish)
Neutral RSI: Neutral (38.5)
Bullish Volume: Volume spike - High activity
Bullish Foreign Flow: Foreign net buying (Last 5 days avg: 170 lot)

Berdasarkan hasil perhitungan indikator teknikal, saham CSRA saat ini menunjukkan kecenderungan downtrend pada periode perdagangan terakhir. Nilai RSI saat ini adalah 38.5, yang menandakan bahwa momentum pergerakan harga masih tergolong stabil di area netral.

Tingkat volatilitas rata-rata dalam beberapa hari terakhir tercatat sebesar 1.21%. Area support terdekat berada di sekitar Rp730, sementara area resistance terdekat berada di kisaran Rp780.

Skor teknikal keseluruhan saat ini adalah 70 poin, yang menggambarkan kecenderungan pasar yang bullish kuat dan mendukung peluang kenaikan harga.

Berdasarkan analisa tersebut, sistem memberikan rekomendasi untuk BUY. Beberapa indikator mendukung arah naik, namun konfirmasi tambahan masih dibutuhkan.

Strategi yang disarankan: Tunggu konfirmasi di 780 disertai lonjakan volume. Target harga berada di kisaran 842 - 880 (10-15%), dengan batas stop loss di sekitar 711 (7% below entry). Disarankan entry secara konservatif; waspadai potensi breakdown di bawah support.

TradingView Chart
Memuat grafik...
Volume & Frekuensi
Foreign Net Buy (lot)
Pasar Nego & Pasar Tunai (Non Regular)
Artikel

Fed Model: Menilai Wajar Tidaknya Pasar Saham dengan Membandingkan Imbal Hasil

Apakah pasar saham saat ini mahal atau murah? Pertanyaan ini selalu menghantui setiap investor. Jawabannya tidak sederhana karena tergantung pada banyak faktor. Namun, ada sebuah model yang cukup populer dan sederhana untuk menjawab pertanyaan ini: Fed Model. Dikembangkan oleh ekonom di Federal Reserve AS (meskipun bukan merupakan model resmi mereka), Fed Model membandingkan imbal hasil pasar saham (earning yield) dengan imbal hasil obligasi pemerintah (yield). Jika earning yield lebih tinggi dari yield obligasi, pasar saham dianggap undervalued. Jika sebaliknya, pasar saham dinilai overvalued. Artikel ini akan membedah Fed Model secara lengkap, bagaimana menerapkannya di pasar saham Indonesia, serta kelebihan dan kekurangannya sebagai alat analisis. Apa Itu Fed Model? Fed Model adalah model valuasi pasar saham yang membandingkan earning yield dari indeks pasar saham dengan yield...

Artikel menarik lainnya:

  1. Gann Emblem: Simbol Harmoni Harga dan Waktu
  2. Refleksi Akhir Tahun: Bukan Tentang Profit, Tapi Proses
  3. Social Media Detox Selama Trading: Mengapa Grup WA dan Telegram Bisa Menghancurkan Akun Anda
  4. Falling Wedge: Wedge Turun yang Menjebak Trader Pesimis
  5. Hammer (Bullish): Pola Satu Candlestick Andalan untuk Mendeteksi Pembalikan Harga
  6. Rasio Likuiditas Cepat (Acid Test Ratio): Detektor Kebenaran Kemampuan Bayar Utang Perusahaan
  7. Bat: Kelelawar yang Membawa Sinyal Pembalikan Presisi
  8. Bahaya Averaging Down Saham Fundamental Rusak: Ketika Memperbesar Posisi Menghancurkan Portofolio
  9. Ladder Top: Pola Bearish Lima Candlestick yang Jarang Tapi Mematikan
  10. Time Series Forecast: Memprediksi Harga Masa Depan dari Pola Masa Lalu

TradingView Chart - CSRA