Update: Jumat, 22 Mei 2026

CSRA

PT. Cisadane Sawit Raya Tbk.

Rp 820
-1.80%
Volume
6.213 lot
MA 5
849
MA 20
899
RSI
18.92
High
840
Low
805

Harga, MA, RSI
Indikator Teknis
Trend
Strong Downtrend
Volatility (Avg)
1.18%
Support (10d)
805
Resistance (10d)
930
Volume Trend (10d)
-13.7%
Score
35
Win Rate (30d)
33.33 %
P/L (30d)
-9.39 %
Sinyal Trading
Bearish MA Cross: Death Cross (MA5 < MA20)
Bearish Price Position: Price below MA5 (Short-term bearish)
Bullish RSI: Oversold (18.9) - Potential reversal
Neutral Volume: Normal volume
Bearish Foreign Flow: Foreign net selling (Last 5 days avg: -6 lot)

Berdasarkan hasil perhitungan indikator teknikal, saham CSRA saat ini menunjukkan kecenderungan strong downtrend pada periode perdagangan terakhir. Nilai RSI saat ini adalah 18.9, yang menandakan bahwa saham berada pada kondisi jenuh jual (oversold) sehingga berpotensi mengalami pembalikan arah ke atas.

Tingkat volatilitas rata-rata dalam beberapa hari terakhir tercatat sebesar 1.18%. Area support terdekat berada di sekitar Rp805, sementara area resistance terdekat berada di kisaran Rp930.

Skor teknikal keseluruhan saat ini adalah 35 poin, yang menggambarkan kecenderungan pasar yang cenderung bearish dan berisiko mengalami tekanan jual.

Berdasarkan analisa tersebut, sistem memberikan rekomendasi untuk SELL. Sinyal bearish kuat terdeteksi; beberapa indikator menunjukkan potensi penurunan lebih lanjut.

Strategi yang disarankan: Keluar pada harga saat ini atau saat terjadi rebound menuju MA5. Target harga berada di kisaran Pertimbangkan masuk kembali di 765 (near support), dengan batas stop loss di sekitar Minimalkan kerugian, keluar saat harga menguat. Hindari membeli saat harga masih turun. Tunggu konfirmasi pembalikan tren.

TradingView Chart
Memuat grafik...
Volume & Frekuensi
Foreign Net Buy (lot)
Pasar Nego & Pasar Tunai (Non Regular)
Artikel

Keltner Channel: Pita yang Mengikuti Volatilitas dengan Lebih Halus

Dalam analisis teknikal saham, setelah mempelajari Bollinger Bands yang menggunakan standar deviasi, kini saatnya mengenal saudaranya yang menggunakan konsep berbeda: Keltner Channel (atau Keltner Channels). Keltner Channel dikembangkan oleh Chester Keltner pada tahun 1960-an, kemudian dimodifikasi oleh Linda Bradford Raschke pada tahun 1980-an menjadi versi yang populer saat ini. Berbeda dengan Bollinger Bands yang menggunakan standar deviasi (dipengaruhi oleh volatilitas ekstrem), Keltner Channel menggunakan Average True Range (ATR) untuk menentukan lebar pita. Hasilnya adalah pita yang lebih halus, tidak se-"ekstrem" Bollinger Bands, tetapi sangat baik untuk mengidentifikasi tren dan breakout dalam konteks volatilitas yang lebih stabil. Artikel ini akan membahas secara lengkap tentang Keltner Channel, mulai dari cara perhitungan, perbedaan dengan Bollinger Bands, interpretasi dasar, pola-pola penting, hingga strategi trading yang efektif. Apa Itu...

Artikel menarik lainnya:

  1. Strategi Martingale di Saham: Bunuh Diri Finansial yang Berkedok Peluang
  2. Symmetrical Triangle: Segitiga Simetris yang Netral Namun Penuh Peluang
  3. ATR (Average True Range) – Tidak Ada Pola, Tapi untuk Stop Loss
  4. Metode Volatility Weighting: Menyesuaikan Alokasi Berdasarkan Risiko Pasar
  5. Kagi Chart – Garis Tebal dan Tipis yang Menceritakan Sentimen Pasar
  6. Risk Parity: Filosofi Portofolio ala Ray Dalio yang Mengutamakan Risiko, Bukan Modal
  7. Breakaway, Sinyal Pembalikan dengan Gap yang Kuat
  8. The 1-2-3 Pattern: Pola Reversal Sederhana dari Joe Ross
  9. Pengertian PER (Price to Earnings Ratio) Sederhana untuk Pemula
  10. Churning: Volume Besar, Range Kecil sebagai Tanda Distribusi dan Akumulasi

TradingView Chart - CSRA