Update: Jumat, 22 Mei 2026

FITT

PT. Hotel Fitra International Tbk.

Rp 344
+6.83%
Volume
8.722 lot
MA 5
368
MA 20
412
RSI
34.62
High
344
Low
284

Harga, MA, RSI
Indikator Teknis
Trend
Strong Downtrend
Volatility (Avg)
6.45%
Support (10d)
284
Resistance (10d)
476
Volume Trend (10d)
-53.4%
Score
35
Win Rate (30d)
43.33 %
P/L (30d)
32.31 %
Sinyal Trading
Bearish MA Cross: Death Cross (MA5 < MA20)
Bearish Price Position: Price below MA5 (Short-term bearish)
Neutral RSI: Neutral (34.6)
Bearish Volume: Low volume - Weak momentum
Bullish Foreign Flow: Foreign net buying (Last 5 days avg: 199 lot)

Berdasarkan hasil perhitungan indikator teknikal, saham FITT saat ini menunjukkan kecenderungan strong downtrend pada periode perdagangan terakhir. Nilai RSI saat ini adalah 34.6, yang menandakan bahwa momentum pergerakan harga masih tergolong stabil di area netral.

Tingkat volatilitas rata-rata dalam beberapa hari terakhir tercatat sebesar 6.45%. Area support terdekat berada di sekitar Rp284, sementara area resistance terdekat berada di kisaran Rp476.

Skor teknikal keseluruhan saat ini adalah 35 poin, yang menggambarkan kecenderungan pasar yang cenderung bearish dan berisiko mengalami tekanan jual.

Berdasarkan analisa tersebut, sistem memberikan rekomendasi untuk SELL. Sinyal bearish kuat terdeteksi; beberapa indikator menunjukkan potensi penurunan lebih lanjut.

Strategi yang disarankan: Keluar pada harga saat ini atau saat terjadi rebound menuju MA5. Target harga berada di kisaran Pertimbangkan masuk kembali di 270 (near support), dengan batas stop loss di sekitar Minimalkan kerugian, keluar saat harga menguat. Hindari membeli saat harga masih turun. Tunggu konfirmasi pembalikan tren.

TradingView Chart
Memuat grafik...
Volume & Frekuensi
Foreign Net Buy (lot)
Pasar Nego & Pasar Tunai (Non Regular)
Artikel

Efek Diderot di Portofolio Saham: Ketika Satu Perubahan Memicu Rantai Keputusan Buruk

Pernahkah Anda mengalami ini: Anda membeli satu saham baru karena tergoda dengan prospeknya. Lalu tanpa sadar, Anda mulai merasa bahwa saham-saham lama Anda "kurang baik" dibandingkan saham baru ini. Anda mulai menjual saham lama yang sebenarnya masih bagus, hanya karena ingin "menyesuaikan" portofolio dengan pembelian baru Anda. Atau skenario lain: Anda menjual satu saham karena butuh uang tunai. Lalu Anda merasa bahwa portofolio Anda "tidak seimbang" tanpa saham itu. Anda buru-buru membeli saham lain yang tidak Anda pahami hanya untuk "mengisi kekosongan." Fenomena ini memiliki nama: Efek Diderot. Dinamai dari filsuf Prancis Denis Diderot, yang menulis esai tentang bagaimana hadiah jubah merah mewah yang ia terima membuatnya merasa bahwa semua barang lain di ruang kerjanya (yang sederhana) menjadi "tidak layak." Ia kemudian berhutang untuk membeli...

Artikel menarik lainnya:

  1. Mengenal CCI: Commodity Channel Index – Sinyal +100/-100 Crossing dan Zero Line Crossing
  2. Drawdown Duration: Indikator Pemulihan yang Sering Terlupakan
  3. Visualisasi Tujuan Keuangan vs Fluktuasi Harian: Jangan Biarkan Pergerakan 5 Menit Menghancurkan Mimpi 5 Tahun
  4. Coppock Curve: Sinyal Beli Legendaris untuk Menangkap Bottom Pasar
  5. Advance Block: Sinyal Pembalikan Harga yang Sering Terlewat
  6. Take Rate: Kunci Monetisasi yang Menentukan Valuasi Saham Digital
  7. Apa Itu Cum Date dan Ex Date Dividen? Wajib Tahu Sebelum Bagi Hasil
  8. Rasio Biaya Medis: Barometer Kesehatan Underwriting Asuransi Kesehatan
  9. Memahami IHSG: Barometer Kesehatan Pasar Modal Indonesia
  10. Gann Square of 144: Master Square untuk Analisis Harga dan Waktu

TradingView Chart - FITT