Update: Jumat, 22 Mei 2026

GTRA

PT. Grahaprima Suksesmandiri Tbk.

Rp 187
-8.33%
Volume
9.061 lot
MA 5
208
MA 20
240
RSI
15.84
High
194
Low
183

Harga, MA, RSI
Indikator Teknis
Trend
Strong Downtrend
Volatility (Avg)
2.39%
Support (10d)
183
Resistance (10d)
268
Volume Trend (10d)
+50.9%
Score
35
Win Rate (30d)
36.67 %
P/L (30d)
-24.60 %
Sinyal Trading
Bearish MA Cross: Death Cross (MA5 < MA20)
Bearish Price Position: Price below MA5 (Short-term bearish)
Bullish RSI: Oversold (15.8) - Potential reversal
Neutral Volume: Normal volume
Bearish Foreign Flow: Foreign net selling (Last 5 days avg: -1.527 lot)

Berdasarkan hasil perhitungan indikator teknikal, saham GTRA saat ini menunjukkan kecenderungan strong downtrend pada periode perdagangan terakhir. Nilai RSI saat ini adalah 15.8, yang menandakan bahwa saham berada pada kondisi jenuh jual (oversold) sehingga berpotensi mengalami pembalikan arah ke atas.

Tingkat volatilitas rata-rata dalam beberapa hari terakhir tercatat sebesar 2.39%. Area support terdekat berada di sekitar Rp183, sementara area resistance terdekat berada di kisaran Rp268.

Skor teknikal keseluruhan saat ini adalah 35 poin, yang menggambarkan kecenderungan pasar yang cenderung bearish dan berisiko mengalami tekanan jual.

Berdasarkan analisa tersebut, sistem memberikan rekomendasi untuk SELL. Sinyal bearish kuat terdeteksi; beberapa indikator menunjukkan potensi penurunan lebih lanjut.

Strategi yang disarankan: Keluar pada harga saat ini atau saat terjadi rebound menuju MA5. Target harga berada di kisaran Pertimbangkan masuk kembali di 174 (near support), dengan batas stop loss di sekitar Minimalkan kerugian, keluar saat harga menguat. Hindari membeli saat harga masih turun. Tunggu konfirmasi pembalikan tren.

TradingView Chart
Memuat grafik...
Volume & Frekuensi
Foreign Net Buy (lot)
Pasar Nego & Pasar Tunai (Non Regular)
Artikel

Bom Waktu di Laporan Keuangan: Analisis Warrant dan Dampak Dilusi pada Kepemilikan Saham

Seorang investor membeli saham sebuah perusahaan tambang yang sedang naik daun. Harga saham naik 40% dalam enam bulan. Ia senang. Namun ketika laporan keuangan kuartal berikutnya keluar, harga saham malah turun meskipun laba perusahaan naik. Ia bingung. Setelah diselidiki, ternyata perusahaan memiliki waran (warrant) yang melekat pada obligasi yang diterbitkan dua tahun lalu. Kini harga saham sudah di atas harga eksekusi waran, dan pemegang waran mulai mengkonversi waran mereka menjadi saham biasa. Jumlah saham beredar membengkak. Laba per saham (EPS) terdilusi. Harga saham pun turun untuk mencerminkan kepemilikan yang semakin encer. Investor itu terlambat menyadari: ia tidak membaca catatan tentang waran di laporan keuangan. Ia adalah korban dilusi tersembunyi. Artikel ini akan membahas secara mendalam tentang waran (warrant), bagaimana menganalisis dampaknya terhadap dilusi, cara menghitung...

Artikel menarik lainnya:

  1. Cypher: Sandi Rahasia Pembalikan Harga yang Akurat
  2. Biaya Transaksi Saham: Beli, Jual, dan Pajak — Panduan Lengkap Investor Pemula
  3. Mengenal RSI: Overbought, Oversold, Divergence, Hidden Divergence, dan Support/Resistance pada RSI
  4. Separating Lines: Garis Pemisah yang Justru Menegaskan Tren
  5. Naked Point of Control (POC): Ketika Area Tersibuk Menjadi Magnet Pasar
  6. Rasio EV terhadap Unit Terjual (EV/Unit): Pendekatan Unik Menilai Saham Berbasis Fisik
  7. Monte Carlo Simulation untuk Risiko Portofolio: Melihat Ribuan Kemungkinan Masa Depan
  8. Thrusting Pattern, Sinyal Kelanjutan yang Sering Disangka Pembalikan
  9. Framing Bias: Bagaimana Cara Penyajian Informasi Mengubah Keputusan Investasi Anda
  10. Auto Rejection: Batasan ARA dan ARB yang Wajib Dipahami Trader

TradingView Chart - GTRA