Bahaya Blind Follow Signal Grup Telegram: Jalan Pintas Menuju Kebangkrutan
Pukul 08.55 pagi. Seorang investor bernama Andi duduk di depan ponselnya, menunggu notifikasi dari grup Telegram premium langganannya. Dua menit sebelum pasar saham dibuka, notifikasi itu datang: "SIGNAL BUY: PT XYZ – SL 3.000 – TP 4.500 – Entry sekarang!" Tanpa berpikir, tanpa membaca laporan keuangan, tanpa melihat grafik, Andi segera membuka aplikasi trading dan membeli saham tersebut di harga berapa pun yang tersedia. Ia tidak tahu bisnis perusahaan itu. Ia tidak tahu apakah harga saat ini wajar. Ia tidak tahu risiko di balik rekomendasi itu. Yang ia tahu: "admin grup katanya jago, dan banyak anggota lain yang juga beli." Inilah potret sehari-hari ribuan investor ritel di Indonesia: blind follow signal—mengikuti rekomendasi saham dari grup Telegram secara membabi buta, tanpa verifikasi, tanpa analisis, tanpa tanggung...