Update: Senin, 6 Juli 2026

SBMA

PT. Surya Biru Murni Acetylene Tbk.

Rp 108
+0.93%
Volume
10.622 lot
MA 5
106
MA 20
106
RSI
52.63
High
114
Low
104
Nilai
65/100
Rekomendasi
BUY *

* Rekomendasi hanya berdasarkan sistem teknikal analisis (MA5, MA20, RSI, Volume dan Foreign Flow), gabungkan dengan indikator lain seperti: analisa transaksi, broker summary, narasi atau corporate action untuk hasil trading lebih optimal.

Harga, MA, RSI
Indikator Teknis
Trend
Downtrend
Volatility (Avg)
2.36%
Support (10d)
101
Resistance (10d)
116
Volume Trend (10d)
-32.7%
Score
65
Win Rate (30d)
46.67 %
P/L (30d)
-4.42 %
Sinyal Trading
Bearish MA Cross: Death Cross (MA5 < MA20)
Bullish Price Position: Price above MA5 (Short-term bullish)
Bullish RSI: Strong momentum (52.6)
Bullish Volume: Volume spike - High activity
Neutral Foreign Flow: Foreign neutral (Last 5 days avg: 0 lot)

Berdasarkan hasil perhitungan indikator teknikal, saham SBMA saat ini menunjukkan kecenderungan downtrend pada periode perdagangan terakhir. Nilai RSI saat ini adalah 52.6, yang menandakan bahwa momentum pergerakan harga masih tergolong stabil di area netral.

Tingkat volatilitas rata-rata dalam beberapa hari terakhir tercatat sebesar 2.36%. Area support terdekat berada di sekitar Rp101, sementara area resistance terdekat berada di kisaran Rp116.

Skor teknikal keseluruhan saat ini adalah 65 poin, yang menggambarkan kecenderungan pasar yang bullish moderat dan masih cukup positif.

Berdasarkan analisa tersebut, sistem memberikan rekomendasi untuk BUY. Beberapa indikator mendukung arah naik, namun konfirmasi tambahan masih dibutuhkan.

Strategi yang disarankan: Tunggu konfirmasi di 110 disertai lonjakan volume. Target harga berada di kisaran 119 - 124 (10-15%), dengan batas stop loss di sekitar 100 (7% below entry). Disarankan entry secara konservatif; waspadai potensi breakdown di bawah support.

TradingView Chart
Memuat grafik...
Volume & Frekuensi
Foreign Net Buy (lot)
Pasar Nego & Pasar Tunai (Non Regular)
Artikel

AISC: Metrik Paling Jujur di Laporan Keuangan Tambang

Dalam dunia investasi saham tambang — terutama tambang emas, perak, dan logam mulia lainnya — Anda akan sering mendengar istilah cash cost. Banyak perusahaan dengan bangga melaporkan cash cost yang rendah, seolah itu adalah satu-satunya ukuran efisiensi. Namun investor berpengalaman tahu bahwa cash cost bisa menipu. Di sinilah All-in Sustaining Cost (AISC) hadir sebagai metrik yang lebih jujur dan komprehensif. AISC adalah standar emas (bukan permainan kata) dalam menilai profitabilitas sesungguhnya sebuah perusahaan tambang. Jika Anda hanya melihat satu metrik biaya sebelum membeli saham tambang, seharusnya itu adalah AISC. Apa Itu All-in Sustaining Cost? AISC adalah total biaya yang dikeluarkan perusahaan tambang untuk mempertahankan produksi pada level saat ini dan mempertahankan cadangan yang ada, dihitung per unit logam yang berhasil dijual (biasanya per ons emas...

Artikel menarik lainnya:

  1. ATR (Average True Range) – Tidak Ada Pola, Tapi untuk Stop Loss
  2. Bahaya Averaging Down Saham Fundamental Rusak: Ketika Memperbesar Posisi Menghancurkan Portofolio
  3. Strategi Dua Sayap: Mengintegrasikan Saham dengan Reksa Dana untuk Portofolio yang Lebih Kuat
  4. Falling Wedge: Wedge Turun yang Menjebak Trader Pesimis
  5. Upside Gap Two Crows: Pola Gagak yang Membawa Kabar Buruk bagi Harga Saham Anda
  6. The Wedge Pullback Pattern: Strategi Memasuki Pergerakan Besar Setelah Breakout
  7. Diversifikasi Sejati: Mengapa Memisah Antar Sektor dan Aset Adalah Kunci Sukses Investasi Saham
  8. Anchoring Bias: Bahaya Terpaku pada Harga Beli atau Harga Tertinggi
  9. Mengenal Moving Average: SMA, EMA, WMA, dan HMA – Panduan Lengkap untuk Trader
  10. Gann Angles – Ketika Waktu dan Harga Bertemu dalam Geometri

TradingView Chart - SBMA