Update: Senin, 5 Oktober 2026

SIDO

PT. Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk.

Rp 352
+1.73%
Volume
146.288 lot
MA 5
348
MA 20
351
RSI
50.00
High
352
Low
344
Nilai
45/100
Rekomendasi
SELL *

* Rekomendasi hanya berdasarkan sistem teknikal analisis (MA5, MA20, RSI, Volume dan Foreign Flow), gabungkan dengan indikator lain seperti: analisa transaksi, broker summary, narasi atau corporate action untuk hasil trading lebih optimal.

Harga, MA, RSI
Indikator Teknis
Trend
Downtrend
Volatility (Avg)
0.70%
Support (10d)
344
Resistance (10d)
358
Volume Trend (10d)
-50.6%
Score
45
Win Rate (30d)
33.33 %
P/L (30d)
0.57 %
Sinyal Trading
Bearish MA Cross: Death Cross (MA5 < MA20)
Bullish Price Position: Price above MA5 (Short-term bullish)
Bullish RSI: Strong momentum (50.0)
Neutral Volume: Normal volume
Bearish Foreign Flow: Foreign net selling (Last 5 days avg: -28.851 lot)

Berdasarkan hasil perhitungan indikator teknikal, saham SIDO saat ini menunjukkan kecenderungan downtrend pada periode perdagangan terakhir. Nilai RSI saat ini adalah 50.0, yang menandakan bahwa momentum pergerakan harga masih tergolong stabil di area netral.

Tingkat volatilitas rata-rata dalam beberapa hari terakhir tercatat sebesar 0.70%. Area support terdekat berada di sekitar Rp344, sementara area resistance terdekat berada di kisaran Rp358.

Skor teknikal keseluruhan saat ini adalah 45 poin, yang menggambarkan kecenderungan pasar yang relatif netral dan belum menunjukkan arah pasti.

Berdasarkan analisa tersebut, sistem memberikan rekomendasi untuk SELL. Kecenderungan masih bearish, namun momentum melemah; rasio risk–reward kurang menarik.

Strategi yang disarankan: Exit jika terjadi rally menuju resistance. Target harga berada di kisaran Evaluasi kembali pada level support: 344, dengan batas stop loss di sekitar Batas risiko: di atas level tertinggi terbaru. Tetap menunggu sampai muncul sinyal yang lebih jelas.

TradingView Chart
Memuat grafik...
Volume & Frekuensi
Foreign Net Buy (lot)
Pasar Nego & Pasar Tunai (Non Regular)
Artikel

Ketika Suku Bunga Naik, Siapa yang Paling Terluka? Analisis Sensitivitas Beban Keuangan dalam Saham

Tahun 2022 hingga 2024 menjadi periode yang tidak terlupakan bagi investor saham global dan domestik. Bank sentral di berbagai negara menaikkan suku bunga acuan secara dramatis untuk memerangi inflasi. Di Indonesia, BI Rate naik dari level historis rendah 3,5% ke kisaran 6%. Akibatnya? Banyak perusahaan yang sebelumnya nyaman dengan utang berbunga rendah, tiba-tiba menghadapi lonjakan beban bunga yang menggerus laba bersih. Fenomena ini mengajarkan satu pelajaran penting: tidak semua saham bereaksi sama terhadap perubahan suku bunga. Perusahaan dengan utang besar dan sensitivitas tinggi akan babak belur, sementara perusahaan tanpa utang hampir tidak terdampak. Artikel ini akan membahas bagaimana menganalisis sensitivitas beban keuangan perusahaan terhadap perubahan suku bunga, langkah-langkah perhitungan, indikator kunci yang harus dipantau, serta strategi investasi di berbagai siklus suku bunga. Mengapa Suku Bunga...

Artikel menarik lainnya:

  1. Rasio Kas terhadap Utang Lancar: Ukuran Paling Keras Kemampuan Bayar Utang dalam 24 Jam
  2. Rasio Restrukturisasi Utang: Detektor Dini Perusahaan yang Hampir Bangkrut atau Peluang Investasi?
  3. Memahami Rasio LTV (Loan to Value) untuk Analisis Perusahaan Keuangan
  4. Broadening Formation (Megaphone): Corong yang Menandakan Ketidakpastian Ekstrem
  5. Counterattack Line, Pertarungan Dua Kekuatan yang Berakhir Seimbang
  6. Goodwill & Intangible Asset: Aset Tak Terlihat yang Bisa Menjebak Investor
  7. Metode Volatility Weighting: Menyesuaikan Alokasi Berdasarkan Risiko Pasar
  8. Analisis Relasi Dividend Yield vs Suku Bunga: Kapan Dividen Masih Menarik?
  9. Mengenal Kelas Saham: Perbedaan Blue Chip, Second Liner, dan Gorengan
  10. Chande Trend Meter: Mengukur Kekuatan Tren dengan Skor Tunggal

TradingView Chart - SIDO