Update: Jumat, 22 Mei 2026

VICO

PT. Victoria Investama Tbk.

Rp 138
-4.17%
Volume
7.746 lot
MA 5
147
MA 20
160
RSI
24.00
High
147
Low
132

Harga, MA, RSI
Indikator Teknis
Trend
Strong Downtrend
Volatility (Avg)
1.75%
Support (10d)
132
Resistance (10d)
181
Volume Trend (10d)
+93.3%
Score
35
Win Rate (30d)
50 %
P/L (30d)
-12.10 %
Sinyal Trading
Bearish MA Cross: Death Cross (MA5 < MA20)
Bearish Price Position: Price below MA5 (Short-term bearish)
Bullish RSI: Oversold (24.0) - Potential reversal
Neutral Volume: Normal volume
Bearish Foreign Flow: Foreign net selling (Last 5 days avg: -1.906 lot)

Berdasarkan hasil perhitungan indikator teknikal, saham VICO saat ini menunjukkan kecenderungan strong downtrend pada periode perdagangan terakhir. Nilai RSI saat ini adalah 24.0, yang menandakan bahwa saham berada pada kondisi jenuh jual (oversold) sehingga berpotensi mengalami pembalikan arah ke atas.

Tingkat volatilitas rata-rata dalam beberapa hari terakhir tercatat sebesar 1.75%. Area support terdekat berada di sekitar Rp132, sementara area resistance terdekat berada di kisaran Rp181.

Skor teknikal keseluruhan saat ini adalah 35 poin, yang menggambarkan kecenderungan pasar yang cenderung bearish dan berisiko mengalami tekanan jual.

Berdasarkan analisa tersebut, sistem memberikan rekomendasi untuk SELL. Sinyal bearish kuat terdeteksi; beberapa indikator menunjukkan potensi penurunan lebih lanjut.

Strategi yang disarankan: Keluar pada harga saat ini atau saat terjadi rebound menuju MA5. Target harga berada di kisaran Pertimbangkan masuk kembali di 125 (near support), dengan batas stop loss di sekitar Minimalkan kerugian, keluar saat harga menguat. Hindari membeli saat harga masih turun. Tunggu konfirmasi pembalikan tren.

TradingView Chart
Memuat grafik...
Volume & Frekuensi
Foreign Net Buy (lot)
Pasar Nego & Pasar Tunai (Non Regular)
Artikel

Efek Diderot di Portofolio Saham: Ketika Satu Perubahan Memicu Rantai Keputusan Buruk

Pernahkah Anda mengalami ini: Anda membeli satu saham baru karena tergoda dengan prospeknya. Lalu tanpa sadar, Anda mulai merasa bahwa saham-saham lama Anda "kurang baik" dibandingkan saham baru ini. Anda mulai menjual saham lama yang sebenarnya masih bagus, hanya karena ingin "menyesuaikan" portofolio dengan pembelian baru Anda. Atau skenario lain: Anda menjual satu saham karena butuh uang tunai. Lalu Anda merasa bahwa portofolio Anda "tidak seimbang" tanpa saham itu. Anda buru-buru membeli saham lain yang tidak Anda pahami hanya untuk "mengisi kekosongan." Fenomena ini memiliki nama: Efek Diderot. Dinamai dari filsuf Prancis Denis Diderot, yang menulis esai tentang bagaimana hadiah jubah merah mewah yang ia terima membuatnya merasa bahwa semua barang lain di ruang kerjanya (yang sederhana) menjadi "tidak layak." Ia kemudian berhutang untuk membeli...

Artikel menarik lainnya:

  1. Graph Anosognosia: Ketika Trader Tidak Tahu Bahwa Mereka Tidak Tahu
  2. VSA (Volume Spread Analysis) – Membaca Niat Pelaku Pasar Melalui Volume dan Spread
  3. Mengintip Aliran Uang di Dalam Candle: Memahami Footprint Chart
  4. Value Averaging (VA): Strategi Cerdas Memaksimalkan Keuntungan Saat Pasar Turun
  5. Ketika Keajaiban Menjadi Bencana: Memahami Rasio Extraordinary Items terhadap Laba
  6. One-Day Reversal (Key Reversal Day): Sinyal Pembalikan Paling Dramatis dalam Satu Hari
  7. Confirmation Bias: Bahaya Hanya Mencari Bukti yang Membenarkan Diri Sendiri
  8. Mengenal TMA (Triangular Moving Average): Rata-rata Bergerak yang Paling Halus
  9. Rasio Kas terhadap Utang Lancar: Ukuran Paling Keras Kemampuan Bayar Utang dalam 24 Jam
  10. Rasio EV per Kapasitas Produksi: Mengukur Nilai Pabrik di Balik Harga Saham

TradingView Chart - VICO