Update: Jumat, 22 Mei 2026

ARKO

PT. Arkora Hydro Tbk.

Rp 6.325
+15.00%
Volume
35.374 lot
MA 5
6.540
MA 20
8.821
RSI
19.00
High
6.400
Low
5.000

Harga, MA, RSI
Indikator Teknis
Trend
Strong Downtrend
Volatility (Avg)
7.18%
Support (10d)
5.000
Resistance (10d)
9.500
Volume Trend (10d)
-48.4%
Score
60
Win Rate (30d)
40 %
P/L (30d)
-20.94 %
Sinyal Trading
Bearish MA Cross: Death Cross (MA5 < MA20)
Bearish Price Position: Price below MA5 (Short-term bearish)
Bullish RSI: Oversold (19.0) - Potential reversal
Neutral Volume: Normal volume
Bullish Foreign Flow: Foreign net buying (Last 5 days avg: 7.260 lot)

Berdasarkan hasil perhitungan indikator teknikal, saham ARKO saat ini menunjukkan kecenderungan strong downtrend pada periode perdagangan terakhir. Nilai RSI saat ini adalah 19.0, yang menandakan bahwa saham berada pada kondisi jenuh jual (oversold) sehingga berpotensi mengalami pembalikan arah ke atas.

Tingkat volatilitas rata-rata dalam beberapa hari terakhir tercatat sebesar 7.18%. Area support terdekat berada di sekitar Rp5.000, sementara area resistance terdekat berada di kisaran Rp9.500.

Skor teknikal keseluruhan saat ini adalah 60 poin, yang menggambarkan kecenderungan pasar yang bullish moderat dan masih cukup positif.

Berdasarkan analisa tersebut, sistem memberikan rekomendasi untuk BUY. Beberapa indikator mendukung arah naik, namun konfirmasi tambahan masih dibutuhkan.

Strategi yang disarankan: Tunggu konfirmasi di 6.452 disertai lonjakan volume. Target harga berada di kisaran 6.958 - 7.274 (10-15%), dengan batas stop loss di sekitar 5.882 (7% below entry). Disarankan entry secara konservatif; waspadai potensi breakdown di bawah support.

TradingView Chart
Memuat grafik...
Volume & Frekuensi
Foreign Net Buy (lot)
Pasar Nego & Pasar Tunai (Non Regular)
Artikel

Rasio Biaya Sewa terhadap EBITDA: Mengungkap Beban Tersembunyi yang Sering Diabaikan Investor

Dalam dunia saham, investor fokus pada laba bersih, pendapatan, dan arus kas. Namun, ada satu pos biaya yang sering luput dari perhatian padahal bisa sangat signifikan: biaya sewa (rent expense). Baik itu sewa toko, sewa pabrik, sewa kantor, atau sewa peralatan—biaya ini mengalir keluar setiap bulan dan mengurangi laba perusahaan. Rasio Biaya Sewa terhadap EBITDA adalah alat sederhana namun kuat untuk mengukur seberapa besar beban sewa membebani operasional perusahaan. Artikel ini akan membahas apa itu rasio ini, mengapa penting, bagaimana interpretasinya, serta bagaimana menggunakannya untuk menghindari saham dengan beban sewa yang terlalu berat. 1. Apa Itu Rasio Biaya Sewa terhadap EBITDA? Rasio Biaya Sewa terhadap EBITDA membandingkan total biaya sewa tahunan dengan EBITDA (Earnings Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization). Rumus: Rasio Sewa/EBITDA = Beban...

Artikel menarik lainnya:

  1. Coppock Curve: Sinyal Beli Legendaris untuk Menangkap Bottom Pasar
  2. Mengenal Pola Tweezer Top: Sinyal Pembalik Harga yang Harus Diketahui Trader Saham
  3. Payout Ratio: Penentu Aman Tidaknya Dividen Anda
  4. White Swan: Pola Harmonic Bearish yang Jarang Dikenal
  5. High Wave: Candlestik dengan Sumbu Panjang di Kedua Sisi
  6. Pipe Bottom: Candlestick Kecil di Akhir Downtrend sebagai Sinyal Pembalikan
  7. Marubozu (Bullish & Bearish): Candlestik Tanpa Bayangan yang Menunjukkan Kekuatan Ekstrem
  8. Over-trading karena Nafsu Balas Dendam: Saat Emosi Menghancurkan Akun Trading
  9. Rasio Likuiditas Cepat (Acid Test Ratio): Detektor Kebenaran Kemampuan Bayar Utang Perusahaan
  10. Stock Split: Alasan dan Dampak Harga

TradingView Chart - ARKO