Update: Kamis, 20 Agustus 2026

BMAS

PT. Bank Maspion Indonesia Tbk.

Rp 496
+1.64%
Volume
1.859 lot
MA 5
492
MA 20
488
RSI
55.93
High
520
Low
496
Nilai
100/100
Rekomendasi
BUY *

* Rekomendasi hanya berdasarkan sistem teknikal analisis (MA5, MA20, RSI, Volume dan Foreign Flow), gabungkan dengan indikator lain seperti: analisa transaksi, broker summary, narasi atau corporate action untuk hasil trading lebih optimal.

Harga, MA, RSI
Indikator Teknis
Trend
Strong Uptrend
Volatility (Avg)
1.59%
Support (10d)
474
Resistance (10d)
610
Volume Trend (10d)
+1,346.3%
Score
100
Win Rate (30d)
43.33 %
P/L (30d)
5.98 %
Sinyal Trading
Bullish MA Cross: Golden Cross (MA5 > MA20)
Bullish Price Position: Price above MA5 (Short-term bullish)
Bullish RSI: Strong momentum (55.9)
Neutral Volume: Normal volume
Bullish Foreign Flow: Foreign net buying (Last 5 days avg: 1 lot)

Berdasarkan hasil perhitungan indikator teknikal, saham BMAS saat ini menunjukkan kecenderungan strong uptrend pada periode perdagangan terakhir. Nilai RSI saat ini adalah 55.9, yang menandakan bahwa momentum pergerakan harga masih tergolong stabil di area netral.

Tingkat volatilitas rata-rata dalam beberapa hari terakhir tercatat sebesar 1.59%. Area support terdekat berada di sekitar Rp474, sementara area resistance terdekat berada di kisaran Rp610.

Skor teknikal keseluruhan saat ini adalah 100 poin, yang menggambarkan kecenderungan pasar yang bullish kuat dan mendukung peluang kenaikan harga.

Berdasarkan analisa tersebut, sistem memberikan rekomendasi untuk BUY. Sinyal bullish kuat terdeteksi; beberapa indikator menunjukkan momentum positif dengan rasio risk/reward yang menarik.

Strategi yang disarankan: Harga saat ini: 496 atau saat terjadi pullback ke MA5. Target harga berada di kisaran 570 - 620 (15-25%), dengan batas stop loss di sekitar 471 (5% below entry). Gunakan manajemen risiko (money management) dan pantau arus dana asing.

TradingView Chart
Memuat grafik...
Volume & Frekuensi
Foreign Net Buy (lot)
Pasar Nego & Pasar Tunai (Non Regular)
Artikel

Recency vs Primacy Effect: Mana yang Lebih Mengendalikan Keputusan Saham Anda?

Dua investor membaca laporan keuangan perusahaan yang sama. Investor A paling terkesan dengan laba fantastis yang diumumkan bulan lalu. Ia mengabaikan tren penurunan dalam tiga tahun terakhir karena data terbaru terasa paling relevan. Ia membeli saham tersebut. Investor B paling terkesan dengan kinerja buruk perusahaan dua tahun lalu saat pandemi. Ia mengabaikan pemulihan signifikan dalam dua kuartal terakhir karena kesan awal terlalu kuat. Ia melewatkan peluang membeli di harga murah. Dua investor yang sama-sama membaca data yang sama, tetapi mengambil keputusan berbeda. Keduanya menjadi korban dari bias yang berlawanan: recency effect (Investor A) dan primacy effect (Investor B). Artikel ini akan membahas dua bias yang sering disebut sebagai "saudara kembar yang bermusuhan"—sama-sama mempengaruhi bagaimana kita menimbang data, tetapi dengan cara yang bertolak belakang. Apa Itu...

Artikel menarik lainnya:

  1. CAC vs LTV: Rasio Paling Jujur untuk Menilai Saham Teknologi
  2. Long Legged Doji: Ketika Pasar Berguncang Hebat tapi Berakhir Bimbang
  3. Over-trading karena Nafsu Balas Dendam: Saat Emosi Menghancurkan Akun Trading
  4. Apa Itu Cum Date dan Ex Date Dividen? Wajib Tahu Sebelum Bagi Hasil
  5. Efek Diderot di Portofolio Saham: Ketika Satu Perubahan Memicu Rantai Keputusan Buruk
  6. Rasio Leverage yang Aman untuk Margin Trading: Panduan untuk Investor Saham
  7. Window (Gap), Celah Harga yang Penuh Makna
  8. Factor Investing: Pendekatan Sistematis untuk Mendapatkan Kelebihan Return
  9. Memahami Pola Tiga Candlestick: Side-by-Side White Lines (Garis Putih Berdampingan)
  10. Lebih dari Sekadar Rasio: Analisis Mendalam P/E to Growth (PEG) Adjusted

TradingView Chart - BMAS