Update: Senin, 12 Oktober 2026

WMUU

PT. Widodo Makmur Unggas Tbk.

Rp 28
-6.67%
Volume
638.222 lot
MA 5
31
MA 20
40
RSI
17.65
High
30
Low
27
Nilai
60/100
Rekomendasi
BUY *

* Rekomendasi hanya berdasarkan sistem teknikal analisis (MA5, MA20, RSI, Volume dan Foreign Flow), gabungkan dengan indikator lain seperti: analisa transaksi, broker summary, narasi atau corporate action untuk hasil trading lebih optimal.

Harga, MA, RSI
Indikator Teknis
Trend
Strong Downtrend
Volatility (Avg)
3.13%
Support (10d)
26
Resistance (10d)
41
Volume Trend (10d)
+25,145.0%
Score
60
Win Rate (30d)
10 %
P/L (30d)
-44.00 %
Sinyal Trading
Bearish MA Cross: Death Cross (MA5 < MA20)
Bearish Price Position: Price below MA5 (Short-term bearish)
Bullish RSI: Oversold (17.7) - Potential reversal
Neutral Volume: Normal volume
Bullish Foreign Flow: Foreign net buying (Last 5 days avg: 12.184 lot)

Berdasarkan hasil perhitungan indikator teknikal, saham WMUU saat ini menunjukkan kecenderungan strong downtrend pada periode perdagangan terakhir. Nilai RSI saat ini adalah 17.7, yang menandakan bahwa saham berada pada kondisi jenuh jual (oversold) sehingga berpotensi mengalami pembalikan arah ke atas.

Tingkat volatilitas rata-rata dalam beberapa hari terakhir tercatat sebesar 3.13%. Area support terdekat berada di sekitar Rp26, sementara area resistance terdekat berada di kisaran Rp41.

Skor teknikal keseluruhan saat ini adalah 60 poin, yang menggambarkan kecenderungan pasar yang bullish moderat dan masih cukup positif.

Berdasarkan analisa tersebut, sistem memberikan rekomendasi untuk BUY. Beberapa indikator mendukung arah naik, namun konfirmasi tambahan masih dibutuhkan.

Strategi yang disarankan: Tunggu konfirmasi di 29 disertai lonjakan volume. Target harga berada di kisaran 31 - 32 (10-15%), dengan batas stop loss di sekitar 26 (7% below entry). Disarankan entry secara konservatif; waspadai potensi breakdown di bawah support.

TradingView Chart
Memuat grafik...
Volume & Frekuensi
Foreign Net Buy (lot)
Pasar Nego & Pasar Tunai (Non Regular)
Artikel

Ketika Suku Bunga Naik, Siapa yang Paling Terluka? Analisis Sensitivitas Beban Keuangan dalam Saham

Tahun 2022 hingga 2024 menjadi periode yang tidak terlupakan bagi investor saham global dan domestik. Bank sentral di berbagai negara menaikkan suku bunga acuan secara dramatis untuk memerangi inflasi. Di Indonesia, BI Rate naik dari level historis rendah 3,5% ke kisaran 6%. Akibatnya? Banyak perusahaan yang sebelumnya nyaman dengan utang berbunga rendah, tiba-tiba menghadapi lonjakan beban bunga yang menggerus laba bersih. Fenomena ini mengajarkan satu pelajaran penting: tidak semua saham bereaksi sama terhadap perubahan suku bunga. Perusahaan dengan utang besar dan sensitivitas tinggi akan babak belur, sementara perusahaan tanpa utang hampir tidak terdampak. Artikel ini akan membahas bagaimana menganalisis sensitivitas beban keuangan perusahaan terhadap perubahan suku bunga, langkah-langkah perhitungan, indikator kunci yang harus dipantau, serta strategi investasi di berbagai siklus suku bunga. Mengapa Suku Bunga...

Artikel menarik lainnya:

  1. Rasio Beta: Mengukur Kepekaan Saham Anda terhadap IHSG
  2. Ukuran Sejati Kinerja Saham: Mengapa Rasio Perusahaan Harus Dibandingkan dengan Rata-rata Industri
  3. High Node dan Low Node: Membaca Peta Kepadatan Volume untuk Menangkap Pergerakan Harga
  4. Cash Conversion Cycle (CCC): Mengukur Efisiensi Arus Kas dari Hulu ke Hilir
  5. Rasio OPM (Operating Profit Margin): Membandingkan Profitabilitas Antar Industri
  6. Psikologi Saham: Fear of Missing Out (FOMO) – Ketika Emosi Mengalahkan Logika
  7. Analisis Tobin's Q: Apakah Pasar Sedang Overvalued?
  8. Status Quo Bias: Bahaya Malas Menyeimbangkan Kembali Portofolio
  9. PER Forward vs Trailing: Mana yang Lebih Akurat Menilai Saham?
  10. Conditional VaR (CVaR) atau Expected Shortfall: Mengukur Sisi Buruk dari Kerugian Ekstrem

TradingView Chart - WMUU