Update: Jumat, 22 Mei 2026

CBRE

PT. Cakra Buana Resources Energi Tbk.

Rp 865
+24.46%
Volume
805.465 lot
MA 5
837
MA 20
904
RSI
47.80
High
865
Low
625

Harga, MA, RSI
Indikator Teknis
Trend
Downtrend
Volatility (Avg)
4.71%
Support (10d)
625
Resistance (10d)
1.035
Volume Trend (10d)
+233.4%
Score
45
Win Rate (30d)
60 %
P/L (30d)
6.79 %
Sinyal Trading
Bearish MA Cross: Death Cross (MA5 < MA20)
Bullish Price Position: Price above MA5 (Short-term bullish)
Neutral RSI: Neutral (47.8)
Bullish Volume: Volume spike - High activity
Bearish Foreign Flow: Foreign net selling (Last 5 days avg: -30.536 lot)

Berdasarkan hasil perhitungan indikator teknikal, saham CBRE saat ini menunjukkan kecenderungan downtrend pada periode perdagangan terakhir. Nilai RSI saat ini adalah 47.8, yang menandakan bahwa momentum pergerakan harga masih tergolong stabil di area netral.

Tingkat volatilitas rata-rata dalam beberapa hari terakhir tercatat sebesar 4.71%. Area support terdekat berada di sekitar Rp625, sementara area resistance terdekat berada di kisaran Rp1.035.

Skor teknikal keseluruhan saat ini adalah 45 poin, yang menggambarkan kecenderungan pasar yang relatif netral dan belum menunjukkan arah pasti.

Berdasarkan analisa tersebut, sistem memberikan rekomendasi untuk SELL. Kecenderungan masih bearish, namun momentum melemah; rasio risk–reward kurang menarik.

Strategi yang disarankan: Exit jika terjadi rally menuju resistance. Target harga berada di kisaran Evaluasi kembali pada level support: 625, dengan batas stop loss di sekitar Batas risiko: di atas level tertinggi terbaru. Tetap menunggu sampai muncul sinyal yang lebih jelas.

TradingView Chart
Memuat grafik...
Volume & Frekuensi
Foreign Net Buy (lot)
Pasar Nego & Pasar Tunai (Non Regular)
Artikel

ATR (Average True Range) – Tidak Ada Pola, Tapi untuk Stop Loss

Dalam dunia trading saham, banyak sekali indikator teknikal yang digunakan untuk mengenali pola, tren, atau sinyal beli dan jual. Mulai dari Moving Average, RSI, MACD, hingga Bollinger Bands. Namun, ada satu indikator yang kerap dianggap unik karena fungsinya tidak untuk mencari pola. Indikator itu adalah ATR (Average True Range). ATR tidak pernah memberi tahu Anda apakah harga saham akan naik, turun, atau sideways. ATR tidak menghasilkan garis support-resistance dinamis, dan tidak memberikan sinyal overbought atau oversold. Lalu, untuk apa ATR digunakan? Jawabannya sederhana: ATR dirancang khusus untuk mengelola volatilitas dan menentukan stop loss yang adaptif. Apa Itu ATR (Average True Range)? Dikembangkan oleh Welles Wilder (tokoh di balik RSI dan Parabolic SAR), ATR mengukur seberapa besar pergerakan harga suatu saham dalam periode tertentu. Wilder...

Artikel menarik lainnya:

  1. Rasio Enterprise Value terhadap Pendapatan (EV/Sales): Ukuran Terbaik untuk Saham yang Belum Untung
  2. Breakaway Gap: Lompatan Awal yang Menandai Kelahiran Tren Baru
  3. Menyingkap Nilai Tersembunyi: Analisis Embedded Value (EV) untuk Saham Asuransi Jiwa
  4. Dividend Yield vs Dividend Payout Ratio: Mana yang Lebih Penting?
  5. Rounding Top (Dome): Kubah yang Menandai Perlahan Berakhirnya Tren Naik
  6. Downside Tasuki Gap: Pola Lanjutan Bearish yang Mematikan
  7. Fibonacci Time Zone – Kapan Waktu yang Tepat untuk Pergerakan Besar?
  8. Elder Ray Index: Mengukur Kekuatan Bull dan Bear di Pasar
  9. Hamada Equation: Menyempurnakan Beta dengan Efek Leverage Keuangan
  10. Apa Itu SID (Single Investor Identification)? Kunci untuk Memulai Investasi Saham

TradingView Chart - CBRE