Update: Jumat, 22 Mei 2026

CMPP

PT. AirAsia Indonesia Tbk.

Rp 71
0.00%
Volume
511 lot
MA 5
72
MA 20
79
RSI
30.77
High
71
Low
70

Harga, MA, RSI
Indikator Teknis
Trend
Strong Downtrend
Volatility (Avg)
2.35%
Support (10d)
70
Resistance (10d)
83
Volume Trend (10d)
-24.1%
Score
20
Win Rate (30d)
30 %
P/L (30d)
-12.35 %
Sinyal Trading
Bearish MA Cross: Death Cross (MA5 < MA20)
Bearish Price Position: Price below MA5 (Short-term bearish)
Neutral RSI: Neutral (30.8)
Bearish Volume: Low volume - Weak momentum
Neutral Foreign Flow: Foreign neutral (Last 5 days avg: 0 lot)

Berdasarkan hasil perhitungan indikator teknikal, saham CMPP saat ini menunjukkan kecenderungan strong downtrend pada periode perdagangan terakhir. Nilai RSI saat ini adalah 30.8, yang menandakan bahwa momentum pergerakan harga masih tergolong stabil di area netral.

Tingkat volatilitas rata-rata dalam beberapa hari terakhir tercatat sebesar 2.35%. Area support terdekat berada di sekitar Rp70, sementara area resistance terdekat berada di kisaran Rp83.

Skor teknikal keseluruhan saat ini adalah 20 poin, yang menggambarkan kecenderungan pasar yang cenderung bearish dan berisiko mengalami tekanan jual.

Berdasarkan analisa tersebut, sistem memberikan rekomendasi untuk SELL. Sinyal bearish kuat terdeteksi; beberapa indikator menunjukkan potensi penurunan lebih lanjut.

Strategi yang disarankan: Keluar pada harga saat ini atau saat terjadi rebound menuju MA5. Target harga berada di kisaran Pertimbangkan masuk kembali di 67 (near support), dengan batas stop loss di sekitar Minimalkan kerugian, keluar saat harga menguat. Hindari membeli saat harga masih turun. Tunggu konfirmasi pembalikan tren.

TradingView Chart
Memuat grafik...
Volume & Frekuensi
Foreign Net Buy (lot)
Pasar Nego & Pasar Tunai (Non Regular)
Artikel

Fed Model: Menilai Wajar Tidaknya Pasar Saham dengan Membandingkan Imbal Hasil

Apakah pasar saham saat ini mahal atau murah? Pertanyaan ini selalu menghantui setiap investor. Jawabannya tidak sederhana karena tergantung pada banyak faktor. Namun, ada sebuah model yang cukup populer dan sederhana untuk menjawab pertanyaan ini: Fed Model. Dikembangkan oleh ekonom di Federal Reserve AS (meskipun bukan merupakan model resmi mereka), Fed Model membandingkan imbal hasil pasar saham (earning yield) dengan imbal hasil obligasi pemerintah (yield). Jika earning yield lebih tinggi dari yield obligasi, pasar saham dianggap undervalued. Jika sebaliknya, pasar saham dinilai overvalued. Artikel ini akan membedah Fed Model secara lengkap, bagaimana menerapkannya di pasar saham Indonesia, serta kelebihan dan kekurangannya sebagai alat analisis. Apa Itu Fed Model? Fed Model adalah model valuasi pasar saham yang membandingkan earning yield dari indeks pasar saham dengan yield...

Artikel menarik lainnya:

  1. Gann Grid – Kotak Geometris yang Memetakan Waktu dan Harga
  2. Risk Based Capital (RBC): Alat Ukur Ketahanan Finansial Emiten Asuransi
  3. Stacked Trendline: Ketika Banyak Garis Menjadi Satu Kekuatan Dahsyat
  4. Value Averaging (VA): Strategi Cerdas Memaksimalkan Keuntungan Saat Pasar Turun
  5. Monte Carlo Simulation untuk Risiko Portofolio: Melihat Ribuan Kemungkinan Masa Depan
  6. Rasio Biaya Sewa terhadap EBITDA: Mengungkap Beban Tersembunyi yang Sering Diabaikan Investor
  7. Strip Ratio: Metrik Wajib Sebelum Beli Saham Batubara
  8. Membangun Ketahanan Stres Melalui Simulasi: Latihan Mental Sebelum Terjun ke Pasar Saham
  9. Upside Tasuki Gap: Pola Lanjutan Bullish yang Jarang Dikenal
  10. Mengenal Kelas Saham: Perbedaan Blue Chip, Second Liner, dan Gorengan

TradingView Chart - CMPP