Update: Selasa, 9 Juni 2026

DEPO

PT. Caturkarda Depo Bangunan Tbk.

Rp 236
+0.85%
Volume
667 lot
MA 5
236
MA 20
260
RSI
36.92
High
236
Low
222
Nilai
55/100
Rekomendasi
HOLD *

* Rekomendasi hanya berdasarkan sistem teknikal analisis, gabungkan dengan indikator lain seperti: analisa transaksi, broker summary, narasi dan atau corporate action untuk hasil trading lebih optimal.

Harga, MA, RSI
Indikator Teknis
Trend
Downtrend
Volatility (Avg)
5.68%
Support (10d)
212
Resistance (10d)
300
Volume Trend (10d)
-75.7%
Score
55
Win Rate (30d)
36.67 %
P/L (30d)
-18.62 %
Sinyal Trading
Bearish MA Cross: Death Cross (MA5 < MA20)
Bullish Price Position: Price above MA5 (Short-term bullish)
Neutral RSI: Neutral (36.9)
Bearish Volume: Low volume - Weak momentum
Bullish Foreign Flow: Foreign net buying (Last 5 days avg: 62 lot)

Berdasarkan hasil perhitungan indikator teknikal, saham DEPO saat ini menunjukkan kecenderungan downtrend pada periode perdagangan terakhir. Nilai RSI saat ini adalah 36.9, yang menandakan bahwa momentum pergerakan harga masih tergolong stabil di area netral.

Tingkat volatilitas rata-rata dalam beberapa hari terakhir tercatat sebesar 5.68%. Area support terdekat berada di sekitar Rp212, sementara area resistance terdekat berada di kisaran Rp300.

Skor teknikal keseluruhan saat ini adalah 55 poin, yang menggambarkan kecenderungan pasar yang relatif netral dan belum menunjukkan arah pasti.

Berdasarkan analisa tersebut, sistem memberikan rekomendasi untuk HOLD. Sinyal campuran muncul. Pasar menunjukkan ketidakpastian tanpa arah yang jelas saat ini.

Strategi yang disarankan: Tunggu breakout diatas 300 (resistance). Target harga berada di kisaran Target setelah terjadi breakout: 330, dengan batas stop loss di sekitar Dibawah 212 (support). Dibutuhkan kesabaran. Pantau lonjakan volume dan konfirmasi arah tren.

TradingView Chart
Memuat grafik...
Volume & Frekuensi
Foreign Net Buy (lot)
Pasar Nego & Pasar Tunai (Non Regular)
Artikel

Loss Aversion: Mengapa Cut Loss Terasa Lebih Sulit daripada Membeli

Setiap trader dan investor pasti pernah mengalaminya: harga saham yang Anda beli mulai turun. Bukan sekadar koreksi wajar, tapi sudah menembus batas stop loss yang sebelumnya Anda tetapkan. Namun jari Anda seolah membeku di atas tombol jual. Anda berpikir, "Mungkin besok naik lagi." Besok datang, harga semakin terpuruk. Anda akhirnya menjual di harga jauh lebih rendah, atau bahkan menyimpannya hingga menjadi "investasi jangka panjang" yang tak direncanakan. Inilah yang disebut loss aversion—salah satu konsep paling kuat dalam psikologi keuangan yang membuat cut loss terasa menyiksa. Apa Itu Loss Aversion? Loss aversion adalah kecenderungan manusia untuk lebih merasakan sakit akibat kerugian daripada kenikmatan dari keuntungan yang besarnya setara. Penelitian peraih Nobel Daniel Kahneman dan Amos Tversky menunjukkan bahwa secara psikologis, rasa sakit karena kehilangan uang Rp1...

Artikel menarik lainnya:

  1. Rasio Market Value Added (MVA): Ukuran Kekayaan yang Diciptakan untuk Pemegang Saham
  2. Saham vs Reksadana vs Obligasi: Mana yang Cocok untuk Pemula?
  3. Home Bias: Bahaya Terlalu Dominan dengan Saham Dalam Negeri
  4. Rising Broadening Wedge: Pola Ekspansi di Puncak yang Berakhir Bearish
  5. Rasio Price to Sales (P/S): Penyelamat Saat Perusahaan Rugi
  6. Net Interest Margin (NIM): Barometer Utama Kinerja Saham Bank
  7. Herding Behavior: Bahaya Ikut-ikutan Tanpa Analisis di Pasar Saham
  8. Spinning Top: Candlestick Keraguan yang Menandakan Pasar Sedang Bimbang
  9. KSEI dan Perannya dalam Penyimpanan Efek: Pilar Keamanan Investasi Pasar Modal
  10. Mengelola Psikologi saat Saham Turun setelah Beli: Jangan Panik, Lakukan Ini!

TradingView Chart - DEPO