Update: Jumat, 22 Mei 2026

ITIC

PT. Indonesian Tobacco Tbk.

Rp 224
-2.61%
Volume
7.601 lot
MA 5
234
MA 20
251
RSI
23.08
High
236
Low
218

Harga, MA, RSI
Indikator Teknis
Trend
Strong Downtrend
Volatility (Avg)
2.48%
Support (10d)
218
Resistance (10d)
268
Volume Trend (10d)
-63.1%
Score
60
Win Rate (30d)
36.67 %
P/L (30d)
-9.68 %
Sinyal Trading
Bearish MA Cross: Death Cross (MA5 < MA20)
Bearish Price Position: Price below MA5 (Short-term bearish)
Bullish RSI: Oversold (23.1) - Potential reversal
Neutral Volume: Normal volume
Bullish Foreign Flow: Foreign net buying (Last 5 days avg: 30 lot)

Berdasarkan hasil perhitungan indikator teknikal, saham ITIC saat ini menunjukkan kecenderungan strong downtrend pada periode perdagangan terakhir. Nilai RSI saat ini adalah 23.1, yang menandakan bahwa saham berada pada kondisi jenuh jual (oversold) sehingga berpotensi mengalami pembalikan arah ke atas.

Tingkat volatilitas rata-rata dalam beberapa hari terakhir tercatat sebesar 2.48%. Area support terdekat berada di sekitar Rp218, sementara area resistance terdekat berada di kisaran Rp268.

Skor teknikal keseluruhan saat ini adalah 60 poin, yang menggambarkan kecenderungan pasar yang bullish moderat dan masih cukup positif.

Berdasarkan analisa tersebut, sistem memberikan rekomendasi untuk BUY. Beberapa indikator mendukung arah naik, namun konfirmasi tambahan masih dibutuhkan.

Strategi yang disarankan: Tunggu konfirmasi di 228 disertai lonjakan volume. Target harga berada di kisaran 246 - 258 (10-15%), dengan batas stop loss di sekitar 208 (7% below entry). Disarankan entry secara konservatif; waspadai potensi breakdown di bawah support.

TradingView Chart
Memuat grafik...
Volume & Frekuensi
Foreign Net Buy (lot)
Pasar Nego & Pasar Tunai (Non Regular)
Artikel

Analisis SOTP (Sum of The Parts): Membongkar Nilai Tersembunyi di Perusahaan Konglomerasi

Di bursa saham, terdapat perusahaan-perusahaan yang memiliki banyak lini bisnis yang sangat berbeda satu sama lain. Ada perusahaan yang awalnya bergerak di tekstil, lalu merambah properti, kemudian masuk ke infrastruktur, dan sekarang memiliki anak perusahaan di bidang digital. Inilah yang disebut perusahaan konglomerasi atau conglomerate. Masalahnya, bagaimana Anda menilai perusahaan yang bisnisnya sangat beragam? Apakah Anda menggunakan rasio PER (Price to Earnings) yang sama untuk semua divisi? Tentu tidak. Divisi properti memiliki karakteristik valuasi yang berbeda dengan divisi consumer goods, dan berbeda lagi dengan divisi infrastruktur. Di sinilah analisis SOTP (Sum of The Parts) atau Penjumlahan Nilai Setiap Bagian menjadi sangat penting. Metode ini memecah perusahaan konglomerasi menjadi bagian-bagian bisnisnya, menilai setiap bagian secara terpisah dengan metode valuasi yang paling sesuai, lalu menjumlahkannya untuk mendapatkan...

Artikel menarik lainnya:

  1. Hubungan Market Cap dengan Risiko dan Likuiditas: Panduan Memilih Saham yang Tepat
  2. Memahami Pola Bearish Engulfing: Sinyal Bahaya Saat Harga Akan Terjun
  3. Fractals Bill Williams: Pola 5 Bar High/Low untuk Identifikasi Support dan Resistance
  4. Beneish M-Score: Alat Deteksi Dini Manipulasi Laporan Keuangan
  5. Ladder Top: Pola Bearish Lima Candlestick yang Jarang Tapi Mematikan
  6. Anchoring Bias: Bahaya Terpaku pada Harga Beli atau Harga Tertinggi
  7. Rounding Top (Dome): Kubah yang Menandai Perlahan Berakhirnya Tren Naik
  8. Analisis Claim Ratio Asuransi Kesehatan: Barometer Profitabilitas yang Tidak Boleh Diabaikan
  9. Take Rate: Kunci Monetisasi yang Menentukan Valuasi Saham Digital
  10. Kepercayaan Buta pada Guru Saham: Bahaya Mengikuti Tanpa Filter

TradingView Chart - ITIC