Update: Rabu, 9 September 2026

SCMA

PT. Surya Citra Media Tbk.

Rp 204
+0.99%
Volume
273.419 lot
MA 5
204
MA 20
205
RSI
46.15
High
206
Low
202
Nilai
40/100
Rekomendasi
SELL *

* Rekomendasi hanya berdasarkan sistem teknikal analisis (MA5, MA20, RSI, Volume dan Foreign Flow), gabungkan dengan indikator lain seperti: analisa transaksi, broker summary, narasi atau corporate action untuk hasil trading lebih optimal.

Harga, MA, RSI
Indikator Teknis
Trend
Downtrend
Volatility (Avg)
1.60%
Support (10d)
199
Resistance (10d)
210
Volume Trend (10d)
-36.6%
Score
40
Win Rate (30d)
36.67 %
P/L (30d)
2.51 %
Sinyal Trading
Bearish MA Cross: Death Cross (MA5 < MA20)
Bearish Price Position: Price below MA5 (Short-term bearish)
Neutral RSI: Neutral (46.2)
Neutral Volume: Normal volume
Bullish Foreign Flow: Foreign net buying (Last 5 days avg: 37.810 lot)

Berdasarkan hasil perhitungan indikator teknikal, saham SCMA saat ini menunjukkan kecenderungan downtrend pada periode perdagangan terakhir. Nilai RSI saat ini adalah 46.2, yang menandakan bahwa momentum pergerakan harga masih tergolong stabil di area netral.

Tingkat volatilitas rata-rata dalam beberapa hari terakhir tercatat sebesar 1.60%. Area support terdekat berada di sekitar Rp199, sementara area resistance terdekat berada di kisaran Rp210.

Skor teknikal keseluruhan saat ini adalah 40 poin, yang menggambarkan kecenderungan pasar yang cenderung bearish dan berisiko mengalami tekanan jual.

Berdasarkan analisa tersebut, sistem memberikan rekomendasi untuk SELL. Kecenderungan masih bearish, namun momentum melemah; rasio risk–reward kurang menarik.

Strategi yang disarankan: Exit jika terjadi rally menuju resistance. Target harga berada di kisaran Evaluasi kembali pada level support: 199, dengan batas stop loss di sekitar Batas risiko: di atas level tertinggi terbaru. Tetap menunggu sampai muncul sinyal yang lebih jelas.

TradingView Chart
Memuat grafik...
Volume & Frekuensi
Foreign Net Buy (lot)
Pasar Nego & Pasar Tunai (Non Regular)
Artikel

Laba dari Anak Perusahaan yang Tidak Terkonsolidasi: Aset Tersembunyi atau Jebakan Akuntansi?

Dalam laporan keuangan emiten, investor sering melihat laba anak usaha yang dikonsolidasi secara penuh. Namun, ada kategori investasi yang tidak masuk ke dalam konsolidasi: anak perusahaan yang tidak terkonsolidasi. Istilah ini merujuk pada entitas di mana perusahaan induk memiliki pengaruh signifikan (20-50% kepemilikan) atau kurang, sehingga dicatat dengan metode ekuitas (equity method) atau sebagai aset keuangan biasa. Memahami pos ini penting karena bisa menjadi sumber laba tersembunyi yang tidak tercermin dalam pendapatan operasional, sekaligus potensi jebakan jika tidak dianalisis dengan benar. 1. Mengapa Anak Perusahaan Tidak Dikonsolidasi? Aturan akuntansi (PSAK/IFRS) menyatakan bahwa konsolidasi hanya wajib jika induk memiliki pengendalian (biasanya >50% saham). Jika kepemilikan antara 20-50%, biasanya dicatat dengan metode ekuitas. Jika kurang dari 20%, dicatat sebagai aset keuangan (instrumen ekuitas) dengan nilai wajar atau...

Artikel menarik lainnya:

  1. Kenali Diri Sendiri: Perbedaan Portofolio Agresif, Moderat, dan Konservatif
  2. Cara Menghitung Profit/Loss Saham Secara Manual: Panduan Langkah demi Langkah
  3. Hammer (Bullish): Pola Satu Candlestick Andalan untuk Mendeteksi Pembalikan Harga
  4. Dividend Yield Tinggi: Jebakan atau Peluang?
  5. Book Value vs Market Value: Dua Dunia Berbeda dalam Menilai Saham
  6. Auto Rejection: Batasan ARA dan ARB yang Wajib Dipahami Trader
  7. Memahami Rasio LTV (Loan to Value) untuk Analisis Perusahaan Keuangan
  8. Pola Nen STAR: Formasi Harmonic Modern dengan Akurasi Tinggi
  9. Working Capital Turnover: Seberapa Efisien Perusahaan Mengelola Modal Kerja?
  10. Rounding Bottom (Saucer): Piring yang Menandai Perlahan Bangkitnya Tren Naik

TradingView Chart - SCMA