Update: Kamis, 20 Agustus 2026

SPMA

PT. Suparma Tbk.

Rp 165
+0.61%
Volume
1.717 lot
MA 5
165
MA 20
165
RSI
61.54
High
166
Low
163
Nilai
65/100
Rekomendasi
BUY *

* Rekomendasi hanya berdasarkan sistem teknikal analisis (MA5, MA20, RSI, Volume dan Foreign Flow), gabungkan dengan indikator lain seperti: analisa transaksi, broker summary, narasi atau corporate action untuk hasil trading lebih optimal.

Harga, MA, RSI
Indikator Teknis
Trend
Downtrend
Volatility (Avg)
1.63%
Support (10d)
160
Resistance (10d)
173
Volume Trend (10d)
-44.0%
Score
65
Win Rate (30d)
40 %
P/L (30d)
-1.79 %
Sinyal Trading
Bearish MA Cross: Death Cross (MA5 < MA20)
Bullish Price Position: Price above MA5 (Short-term bullish)
Bullish RSI: Strong momentum (61.5)
Bearish Volume: Low volume - Weak momentum
Bullish Foreign Flow: Foreign net buying (Last 5 days avg: 424 lot)

Berdasarkan hasil perhitungan indikator teknikal, saham SPMA saat ini menunjukkan kecenderungan downtrend pada periode perdagangan terakhir. Nilai RSI saat ini adalah 61.5, yang menandakan bahwa momentum pergerakan harga masih tergolong stabil di area netral.

Tingkat volatilitas rata-rata dalam beberapa hari terakhir tercatat sebesar 1.63%. Area support terdekat berada di sekitar Rp160, sementara area resistance terdekat berada di kisaran Rp173.

Skor teknikal keseluruhan saat ini adalah 65 poin, yang menggambarkan kecenderungan pasar yang bullish moderat dan masih cukup positif.

Berdasarkan analisa tersebut, sistem memberikan rekomendasi untuk BUY. Beberapa indikator mendukung arah naik, namun konfirmasi tambahan masih dibutuhkan.

Strategi yang disarankan: Tunggu konfirmasi di 168 disertai lonjakan volume. Target harga berada di kisaran 182 - 190 (10-15%), dengan batas stop loss di sekitar 153 (7% below entry). Disarankan entry secara konservatif; waspadai potensi breakdown di bawah support.

TradingView Chart
Memuat grafik...
Volume & Frekuensi
Foreign Net Buy (lot)
Pasar Nego & Pasar Tunai (Non Regular)
Artikel

Recency vs Primacy Effect: Mana yang Lebih Mengendalikan Keputusan Saham Anda?

Dua investor membaca laporan keuangan perusahaan yang sama. Investor A paling terkesan dengan laba fantastis yang diumumkan bulan lalu. Ia mengabaikan tren penurunan dalam tiga tahun terakhir karena data terbaru terasa paling relevan. Ia membeli saham tersebut. Investor B paling terkesan dengan kinerja buruk perusahaan dua tahun lalu saat pandemi. Ia mengabaikan pemulihan signifikan dalam dua kuartal terakhir karena kesan awal terlalu kuat. Ia melewatkan peluang membeli di harga murah. Dua investor yang sama-sama membaca data yang sama, tetapi mengambil keputusan berbeda. Keduanya menjadi korban dari bias yang berlawanan: recency effect (Investor A) dan primacy effect (Investor B). Artikel ini akan membahas dua bias yang sering disebut sebagai "saudara kembar yang bermusuhan"—sama-sama mempengaruhi bagaimana kita menimbang data, tetapi dengan cara yang bertolak belakang. Apa Itu...

Artikel menarik lainnya:

  1. Negative Volume Index (NVI) dan Positive Volume Index (PVI) – Membaca Cerdas di Hari Sepi
  2. Take Rate: Kunci Monetisasi yang Menentukan Valuasi Saham Digital
  3. Shark: Hiu yang Memburu Titik Pembalikan dengan Presisi Tinggi
  4. Strategi Tilt Factor: Memanfaatkan Size, Value, dan Momentum untuk Meningkatkan Return
  5. Hidden Asset: Ketika Nilai Buku Terlalu Rendah dan Pasar Melewatkan Harta Karun
  6. Herding Behavior: Bahaya Ikut-ikutan Tanpa Analisis di Pasar Saham
  7. Core Portfolio: Kombinasi Saham Blue Chip dan Obligasi untuk Fondasi Investasi yang Kokoh
  8. Three Outside Up & Three Outside Down: Konfirmasi Ekstra dari Pola Engulfing
  9. Churn Rate: Mengukur Kebocoran Pelanggan Sebelum Saham Anjlok
  10. NPL (Non Performing Loan): Mengukur Risiko Kredit Macet Sebelum Membeli Saham Bank

TradingView Chart - SPMA