Update: Jumat, 22 Mei 2026

TYRE

PT. King Tire Indonesia Tbk.

Rp 108
-0.92%
Volume
2.486 lot
MA 5
110
MA 20
116
RSI
29.03
High
114
Low
102

Harga, MA, RSI
Indikator Teknis
Trend
Strong Downtrend
Volatility (Avg)
1.72%
Support (10d)
102
Resistance (10d)
122
Volume Trend (10d)
-78.1%
Score
55
Win Rate (30d)
33.33 %
P/L (30d)
-6.09 %
Sinyal Trading
Bearish MA Cross: Death Cross (MA5 < MA20)
Bearish Price Position: Price below MA5 (Short-term bearish)
Bullish RSI: Oversold (29.0) - Potential reversal
Bearish Volume: Low volume - Weak momentum
Bullish Foreign Flow: Foreign net buying (Last 5 days avg: 111 lot)

Berdasarkan hasil perhitungan indikator teknikal, saham TYRE saat ini menunjukkan kecenderungan strong downtrend pada periode perdagangan terakhir. Nilai RSI saat ini adalah 29.0, yang menandakan bahwa saham berada pada kondisi jenuh jual (oversold) sehingga berpotensi mengalami pembalikan arah ke atas.

Tingkat volatilitas rata-rata dalam beberapa hari terakhir tercatat sebesar 1.72%. Area support terdekat berada di sekitar Rp102, sementara area resistance terdekat berada di kisaran Rp122.

Skor teknikal keseluruhan saat ini adalah 55 poin, yang menggambarkan kecenderungan pasar yang relatif netral dan belum menunjukkan arah pasti.

Berdasarkan analisa tersebut, sistem memberikan rekomendasi untuk HOLD. Sinyal campuran muncul. Pasar menunjukkan ketidakpastian tanpa arah yang jelas saat ini.

Strategi yang disarankan: Tunggu breakout diatas 122 (resistance). Target harga berada di kisaran Target setelah terjadi breakout: 134, dengan batas stop loss di sekitar Dibawah 102 (support). Dibutuhkan kesabaran. Pantau lonjakan volume dan konfirmasi arah tren.

TradingView Chart
Memuat grafik...
Volume & Frekuensi
Foreign Net Buy (lot)
Pasar Nego & Pasar Tunai (Non Regular)
Artikel

Social Media Detox Selama Trading: Mengapa Grup WA dan Telegram Bisa Menghancurkan Akun Anda

Anda membuka grup WhatsApp atau Telegram saham favorit Anda. Dalam lima menit, Anda membaca puluhan pesan: "UD ini bakal tembus 200! Gas terus!" "Turun dikit dikit, sabar ya kawan, masih bagus!" "Tadi saya dapat info dari dalam, ada kabar baik minggu depan." "Saya sudah beli 200 lot di 150. Siapa lagi?" "Udah naik 10 poin! Makasih admin!" Lima belas menit kemudian, Anda membeli saham itu. Bukan karena analisis Anda. Bukan karena riset Anda. Tapi karena semua orang di grup membelinya. Anda takut ketinggalan. Inilah social media dalam trading. Dan bagi kebanyakan trader ritel, ia adalah racun perlahan yang menghancurkan disiplin, mengaburkan penilaian, dan menguras modal. Artikel ini tentang perlunya social media detox selama trading. Bukan berarti Anda harus menghapus semua akun sosial media selamanya. Tapi...

Artikel menarik lainnya:

  1. Rasio Price to Sales (P/S): Penyelamat Saat Perusahaan Rugi
  2. Analisis Minority Interest: Jangan Keliru Menilai Kepemilikan Laba dalam Laporan Keuangan
  3. Pengertian Waktu T+2 Settlement Saham: Kapan Dana dan Saham Benar-benar Berpindah?
  4. Strategi Dua Sayap: Mengintegrasikan Saham dengan Reksa Dana untuk Portofolio yang Lebih Kuat
  5. Cup and Handle Inverted: Cangkir Terbalik yang Menjanjikan Penurunan Tajam
  6. Falling Broadening Wedge: Pola Ekspansi yang Menjadi Kontraksi
  7. Kepercayaan Buta pada Guru Saham: Bahaya Mengikuti Tanpa Filter
  8. Gann Square of 144: Master Square untuk Analisis Harga dan Waktu
  9. Loss Aversion: Mengapa Cut Loss Terasa Lebih Sulit daripada Membeli
  10. Chevron Pattern: Pola V Terbalik Berulang yang Jarang Dibahas

TradingView Chart - TYRE